Bersama Komnas Pengendalian Tembakau, AMKRI Jatim Desak Pemerintah Tangani Persoalan Rokok Lebih Tegas

Surabaya (wartasas.com) – Tingginya angka penderita kanker di Indonesia yang diakibatkan oleh asap rokok membuat Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) mendesak pemerintah untuk lebih tegas menangani persoalan rokok agar masyarakat khususnya di wilayah Jawa Timur dapat terbebas dari bahaya rokok.

Hal ini disampaikan langsung oleh Koordinator Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia, Helena Uswardi, Ketua Tobacco Control Support Center, Dr Santi Martini, dr.M.Kes, serta 20 Korban Rokok dalam deklarasi AMKRI Jawa Timur pada Minggu, 22 Juli 2018 di Kota Surabaya.

AMKRI Jawa Timur yang beranggotakan pasien dari berbagai macam penyakit seperti kanker pita suara, kanker payudara, kanker paru, penyakit stroke, jantung, asma, penyakit kronik paru, dan keluarga korban bersama sama memiliki semangat dan tujuan yang sama utuk turut dalam pengendalian rokok di Indonesia.

Helena Uswardi mengatakan bahwa, tujuan dibentuknya dan dilakukannya deklarasi adalah ingin mendukung pemerintah untuk lebih tegas dalam menangani persoalan rokok agar Indonesia dapat terbebas dari penyakit yang diakibatkan oleh rokok.

“Supaya pemerintah segera meratifikasi Frame Work Convention of Tobacco Control, membuat perda kawasan tanpa rokok, dan menjadikan harga rokok mahal agar tidak dapat dijangkau anak-anak dan masyarakat luas,” kata Helena usai melakukan deklarasi AMKRI di Surabaya, Minggu, (22/07/18).

“Karena, lebih dari 200.000 korban meninggal setiap tahun akibat konsumsi rokok. Untuk itu, AMKRI perlu terus memperluas langkahnya untuk menjangkau sebanyak mungkm korban rokok yang selama ini diam dan mengajak mereka untuk bersuara bersama,” tambahnya.

AMKRI yang selama ini masih bergerak aktif di Jakarta, perlu menjangkau para korban lain di berbagai daerah, salah satunya Jawa Timur. Di provinsi ini, telah teridentifikasi kelompok para korban rokok yang pernah dirangkul dan mendapat penguatan isu pengendalian tembakau sehingga dapat bergerak bersama sesama korban rokok.

“Oleh karena itu, AMKRI bersama Komnas Pengendalian Tembakau, Tobacco Support Center, dan Universitas Airlangga mengadakan kegiatan pembekalan bagi para korban rokok Jatim. Agar pemerintah juga semakin peduli,” terangnya.

Melalui kesempatan ini juga, AMKRI Jawa Timur menyampaikan tuntutan mereka melalui deklarasi tuntutan bersama yang ditujukan kepada pemerintah:

1. Mendesak pemerintah RI clan DPR RI agar segera membentuk dan menegakkan kebijakan dan tentang pengendalian rokok.

2. Menolak segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor industri rokok termasuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terselubung.

3. lkut berperan dalam menyampaikan informasi dan edukasi tentang bahaya rokok kepada masyarakat dengan sebenar-benarnva.

4. Menaikkan harga rokok setinggi mungkin sampai tidak dapat dijangkau anak-anak, remaja, dan masyarakat luas, terutama keluarga miskin.

Ditempat yang sama, Ketua Tobacco Control Support Center, Dr Santi Martini, dr.M.Kes mengakui harga rokok di lndonesia memang terlalu murah. ini menyebabkan jumlah perokok pemula diketahui meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 8,8% pada 2016 (Sirkesnas, 2016).

“Padahal sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan prevalensi perokok anak usia di bawah 18 tahun sebesar 1% setiap tahunnya. lni menunjukkan, rokok murah juga mendorong anak-anak yang mampu membeli rokok dan dapat teradiksi sehingga menjadi perokok yang tidak dapat berhenti seterusnya,” tutur DR. Santi.

”Kalau harga rokok tidak segera dinaikkan, maka Indonesia akan segera menghadapi gangguan ekonomi yang disebabkan menurunnya produktivitas dan membengkaknya anggaran jaminan kesehatan nasional,” imbuhnya.

Berdasarkan riset Atlas Tobbaco, Indonesia menduduki ranking tiga negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia. Jumlah perokok di Indonesia tahun 2016 mencapai 90 juta jiwa. Indonesia sendiri menempati urutan tertinggi prevalensi merokok bagi laki-laki di ASEAN yakni sebesar 67,4 persen.

Kenyataan ini diperparah bahwa perokok di Indonesia usianya semakin muda. Data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan jumlah perokok anak di bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. 19,8% pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun, clan hampir 88.6% pertama kali mencobanya di bawah usia 13 tahun. (Tls)