Ditangan Mahasiswa ITS, Limbah Beracun Diolah Menjadi Ramah Lingkungan

Surabaya (wartasas.com) – Melihat maraknya keberadaan industri elektroplating atau penyepuhan yang kerap menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan maupun makhluk hidup lain, mencetuskan ide kreatif mahasiswa ITS untuk mengolah limbah beracun menjadi ramah lingkungan.

Mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut yaitu Wulan Aulia, Rahadian Abdul Rachman dan Ulva Tri Ita berhasil mengubah logam Kromium 6 menjadi logam yang lebih ramah lingkungan.

Wulan Aulia selaku Ketua Tim, mengatakan bahwa, penggunaan logam kromium saat ini banyak digunakan dalam industri elektroplating untuk menghindari terjadinya korosi. Namun, penggunaan logam kromium ini berdampak buruk jika limbahnya tidak diolah dengan baik.

“Dampaknya seperti menyebabkan mutagen pada manusia serta proses pertumbuhan tanaman di sekitar pembuangan limbah akan terhambat. Supaya limbah dari logam kromium 6 tidak lagi berbahaya, kami mereduksinya menjadi logam kromium 3 dengan sistem Microbial Full Cell(MFC),” kata Aulia saat ditemui dalam uji coba penemuannya tersebut di Lab ITS, Kamis, (21/06/18).

“Sedangkan, untuk prinsip kerjanya yaitu logam kromium direduksi terlebih dahulu kemudian dilakukan absorbsi,” tambahnya menjelaskan.

Aulia menjelaskan, pereduksian menjadi logam kromium 3, dinilai memiliki toksisitas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kromium 6. Sedangkan untuk ukurannya sendiri, kromium 3 memiliki ukuran molekul yang lebih kecil.

Dalam hal ini, imbuh Wulan, timnya menggunakan material adsorbsi Zeolit Y untuk menyerap limbah dari logam kromium 6 yang tak tereduksi. Permukaan sisi aktif dari Zeolit Y yang luas akan meningkatkan kinerja dari penyerapan limbah logam kromium 6.

Mekanismenya dimulai dari menambahkan sumber bakteri Saccharomyces cerevisiae pada kutub anoda sistem reaktor. Kemudian, elektron yang dihasilkan akan bergerak menuju kutub katoda.

Pada kutub katoda, limbah kromium 6 yang terkumpul akan diserap oleh Zeolit Y. Dalam prosesnya, variasi waktu penyerapan dilakukan setiap selang 15 menit hingga dua jam. Di setiap menitnya, dilakukan pengukuran kadar logam kromium yang telah terserap oleh Zeolit Y.

“Reduksi juga bisa dilakukan untuk logam yang memiliki toksisitas tinggi seperti timbal (Pb) dan merkuri (Hg),” terangnya.

Ketiga mahasiswi ITS tersebut berharap penemuannya ini dapat mengantarkannya untuk meraih medali emas pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang bakal digelar pada bulan Agustus mendatang. (Tls)