Mengenang Sosok WS Rendra Lewat Tulisan

Surabaya (wartasas.com) – Memasuki diusianya yang ke 67 sosok seorang budayawan dan pengabdi dunia pendidikan yang sudah melahirkan ratusan puisi puisi indah, masih saja tak pernah lelah untuk terus berkarya dalam menulis buku demi nusa dan bangsa.

Kali ini, Soetanto Soepiadhy yang lebih akrab dipanggil Daddy, kembali meluncurkan buku terbarunya yang berjudul “Rendra Dan Aku”.

Sengaja dalam peluncuran buku yang ke 76 tersebut, dilakukan bersamaan dengan kelahiran cucu keduanya yang bernama Azkia Shaqueena Adityasoetanto, pada Sabtu, 26 November 2016 kemarin, di Wisma Jerman Doethe Institut Surabaya.

1

Turut hadir dalam acara peluncuran buku “Rendra Dan Aku”, Budayawan D Zawawi Imron dan seniman se Jawa Timur serta puluhan penggemar tulisan Soetanto Soepiadhy.

Dosen Pascasarjana diberbagai perguruan tinggi bidang hukum  ini menuturkan, penulisan buku ini berangkat dari kerinduannya akan sosok seorang WS Rendra. Buku ini menyampaikan tentang betapa hebatnya sosok seorang budayawan yang biasa disebut Mas Willy.

“Kita semua tahu siapa itu WS Rendra. Beliau bukan saja seorang budayawan tapi juga seorang pejuang keras yang mampu berdiri dengan kaki sendiri, di saat orang lain tidak mampu melakukannya. Almarhum semestinya dijadikan teladan oleh anak zaman sekarang.” Ucap Daddy, panggilan akrab Soetanto Soepiadhy, saat ditemui, Sabtu, (26/11/16).

3

Penulisan buku ini, dimulai dari keinginan Daddy supaya WS Rendra selalu dikenal dengan berbagai macam kepintarannya.

“Banyak yang mengenal Rendara sebagai seorang sastrawan dan budayawan. Padahal, Rendra itu sangat pintar dalam segala bidang. Dia hafal pasal-pasal, mulai dari kedaulatan, ketatanegaraan hingga perekonomian. Dan, tidak selalu dengan puisinya saja,” tambahnya.

Buku keenam ditahun 2016 ini, merupakan buku ke 76 yang pernah ditulisnya. Berbagai macam judul buku telah dilahapnya. Berbagai macam tulisan lepas di media massa telah di publikasikannya.

“Saat ini, banyak masyarakat mengenal sosok WS Rendra dari puisi-puisinya. Kita berharap, Rendra tetap dikenal dan dikenang dari semua karyanya. Dengan diluncurkannya buku “ Rendra dan Aku” dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan dapat mengenal sosok WS Rendra lebih dekat,” ungkap anggota Dewan Kehormatan Peradi ini dengan santunnya.

Hampir semua buku yang ditulis berdurasi tiga sampai empat bulan. Meski prosesnya tergolong cepat, pendalaman materi hendak dia tulis tidak bisa dibilang instan. Semua tulisannya penuh pendalaman untuk mewarnai tulisannya sehingga bisa mentransfer emosi kepada pembaca.

Dosen hukum tata negara mempunyai cara unik dalam menggali inspirasi tulisan. Dia menulis setiap bukunya pada pukul 01.00 dini hari hingga menjelang subuh.

“Saya sisihkan waktu paling tidak lima jam untuk menulis di saat semua orang pada tidur,” urainya sambil tersenyum. (Tls)

 

 

 

 

 

Add a Comment