2045 Menuju Berkah Atau Musibah

Surabaya (wartasas.com) – Angka 100 dianggap istimewa bagi sebagian banyak masyarakat. Seperti contoh, kinerja seorang pemimpin selalu diukur dengan program 100 hari kedepan atau selametan 100 hari kematian yang biasa disebut “nyatus”.

Inilah yang kemudian dikupas dalam buku terbaru yang berjudul “2045 Menuju Berkah Atau Musibah” karya Soetanto Soepiadhy SH MH seorang penulis dan budayawan serta pengabdi dunia pendidikan yang sudah melahirkan ratusan puisi puisi indah, memprediksi bangsa Indonesia akan mengalami musibah saat merayakan ulang tahunnya yang ke 100 pada tahun 2045 mendatang.

Dalam peluncuran buku “2045 Menuju Berkah Atau Musibah” yang digelar Sabtu, 4 Januari 2017 di Singgasana Hotel Surabaya, yang dihadiri langsung oleh sang penulis Soetanto Soepiadhy didampingi seniman lukis Ida Fitriyah, mencoba menyampaikan kondisi bangsa Indonesia yang semakin terseok seok.

Soetanto Soepiadhy SH MH sang budayawan menyampaikan, bahwa atas nama cinta tanah air, kita semua sedang bersiap menuju Indonesia 100 tahun yaitu di tahun 2045. Namun, banyak batu terjal yang menghadang bangsa Indonesia untuk terus maju kedepan, sehingga terkadang terseok seok.

“Wajar, apabila seorang ekonom sepuh, Subroto sampai bertanya, bisakah Indonesia di tahun 2045 sejahtera ? Dan menurut prediksinya, Indonesia akan sejahtera di tahun 2045 apabila ekonomi tumbuh 7 persen pertahun dimulai tahun 2016.” Ucap Deddy sapaan akrab Soetanto Soepiadhy, ketika dijumpai dalam peluncuran bukunya, Sabtu, (4/2/17).

“Dan bangsa kita masih tergolong miskin, karena ditahun 2016 saja angka income per capita masih $ 3.500 yang seharusnya apabila tumbuh 7 persen pertahun, income per capita setiap 10 tahun akan meningkat dua kali lipat. Sehingga, ditahun 2045 akan mencapai sekitar $ 28.000,” tambahnya.

Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, mengatakan tragedi tersebut juga  diyakini bakal menimpa bangsa Indonesia apabila jika sistem pendidikan juga tidak diperbaiki. Karena, ini diyakini ada yang salah dalam sistem pendidikan di Indonesia.

“Sistem pendidikan juga mempengaruhi kondisi bangsa Indonesia. Pembebanan pembelajaran pada baca, tulis, dan hitung (calistung) justru menumbuhkan generasi galau,” terang Soetanto Soepiadhy.

Menurut Soetanto, sistem pendidikan yang berlaku sekarang hanya membuat anak didik justru tertekan, jenuh, bosan, dan beragam sifat negatif lainnya. Serta, menghadirkan sosok-sosok yang suka kekerasan, egois, dan mau menangnya sendiri.

“Sebenarnya solusinya cukup mudah, biarkan anak-anak di usia emas ini menjadi diri sendiri dan berjalan apa adanya. Jangan hanya menekankan pada pendidikan yang materialistic,” pungkasnya.

Buku “2045 Menuju Berkah Atau Musibah” karya Soetanto Soepiadhy SH MH ditulis dengan harapan mampu menstimulasi masyarakat untuk terus maju dalam proses menuju usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia, dalam upaya menjadikan Indonesia sejahtera, maju dan berkarya.

Dikesempatan peluncuran buku “2045 Menuju Berkah Atau Musibah” tersebut, seniman lukis Ida Fitriyah juga turut menuangkan kegelisahannya lewat goresan lukisan sketsa yang menggambarkan situasi carut marut bangsa Indonesia. (Tls)

Add a Comment