Selain Sebagai Tempat Ibadah, Langgar “Marsimah” Juga Sebagai Wadah Berdiskusi Warga

Surabaya (wartasas.com) – Langgar selain digunakan sebagai tempat mengaji dan beribadah, juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk membahas kegiatan positif. Sehingga, langgar menjadi pusat untuk membangun kesalehan, bukan hanya spiritual, tetapi juga kesalehan sosial.

Seperti halnya yang diharapkan oleh Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo saat meresmikan Langgar Marsimah yang berada di Jalan Dinoyo Langgar Surabaya pada Kamis, 10 Mei 2018.

Dalam sambutannya, Pakde Karwo sapaan lekat gubernur Jatim menyampaikan bahwa, langgar juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk membahas kegiatan seperti pencegahan penyakit demam berdarah (DB), membersihkan selokan, dan lainnya.

“Pembahasan DB, sangat penting dilakukan juga diurus karena penyakit ini sangat berbahaya. Melalui langgar ini, semangat gerakan mencegah DB semakin kuat,” kata Pakde karwo dalam sambutannya usai meresmikan Langgar Marsimah Dinoyo, Kamis, (10/05/18).

“Disini sudah ada grup jemantik DB, ini luar biasa. Silahkan mencontoh ibu-ibu di Mojokerto Kota, sudah 10 tahun tidak ada DB,” tambahnya sambil menjelaskan hal tersebut terwujud karena ibu-ibu semuanya mengecek di kamar mandinya apakah ada jentik nyamuk atau tidak.

Selain DB, imbuhnya, yang tidak kalah penting adalah relawan untuk mendampingi ibu-ibu hamil hingga melahirkan. Pendampingan tsb sangat penting karena jika saat hamil mengalami tekanan darah tinggi maka akan atau preklamsia atau clamsia usai nifas yang mengakibatkan kematian.

Secara pribadi, Pakde Karwo memberi apresiasi kepada keluarga Martono yang telah mewakafkan tanahnya untuk pendirian langgar ini.

“Pak Martono asli kelahiran sini, dan mau membangun lingkungan disini. Terima kasih, semoga langgar ini bisa memberikan barokah bagi lingkungan sekitar, dan mendapat ridho Allah SWT,” terang Pakde Karwo.

Perwakilan keluarga pemilik langgar, mengatakan, langgar ini adalah milik keluarga yang diwakafkan kepada masyarakat. Tanah langgar ini dulu dimiliki oleh keluarga almarhumah Marsimah dan almarhum Siamin, orang tua Martonio. Sebelum keduanya meninggal, berpesan agar tanah untuk diwakafkan kepada masyarakat dalam bentuk langgar.

Proses pembangunan langgar yang berdiri diatas lahan seluas 240 m2 ini tergolong cepat, yakni hanya enam bulan dengan menelan biaya sekitar Rp. 700 juta yang berasal dari urunan keluarga.

“Kedepan, langgar ini selain untuk ibadah, seperti kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an, juga untuk kegiatan sosial,” pungkasnya. (Tls)