Pil Double L beromset 208 Miliar, Dapat di Bongkar Polsek Tegalsari

Surabaya (wartasas.com) – Berbagai cara telah dilakukan oleh penegak hukum Indonesia untuk menekan dan mengatisipasi beredarnya narkoba di Indonesia hingga memberikan hukuman terberat yaitu hukuman mati sekalipun, namun tidak memberikan efek jera bagi para pengguna dan pengedar narkoba.

Dalam press realese yang disampaikan di Halaman Depan Mapolrestabes Surabaya pada Senin, 23 April 2018 disampaikan bahwa, Unit Reskrim Polsek Tegalsari Polrestabes Surabaya berhasil membongkar kasus peredaran Pil Double L beromset 208 Miliar.

Tampak turut hadir dalam press realese, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan, Kepala BNNP Jawa Timur Brigjen Pol Bambang Budi Santoso didampingi Kepala BNNK Kota Surabaya AKBP Suparti, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Kepala BPPOM Surabaya Drs. Sapari, Apt.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menyampaikan bahwa, dalam kasus ini kepolisian menyita 46 Dus dan 800 Butir Pil Double L dengan total 4.600.800 Butir dari 6 tersangka.

“Keenam tersangka tersebut adalah berinisial EN, TF, AL, ES, ST dan TD. Selama 4 tahun beroperasi kelompok ini sudah menerima omset sekitar 208 miliar dari pil koplo tersebut,” ucap Kapolrestabes Surabaya dalam kesempatan press realese, Senin, (23/04/18).

Dikesempatan yang sama, Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang nampak terlihat geram dengan perbuatan para tersangka yang sudah merusak generasi muda khususnya generasi muda Kota Surabaya.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Surabaya sempat memberikan penghargaan kepada Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan dan Kapolsek Telgasari Kompol David Triyo Prasojo karena telah berhasil ungkap kasus peredaran Pil Double L.

“Pil Double L efeknya seperti narkoba. Narkoba bagaikan Perang Senjata Kimia, karena dapat membunuh secara pelan-pelan dan dapat merusak generasi muda,” tegas Risma dengan nada geram dihadapan tersangka.

Risma berpesan, kepada seluruh generasi muda bahwa, tidak ada gunanya menggunakan narkoba. Setiap manusia itu mempunyai keterbatasan dan jangan kemudian ingin melampaui keterbatasan itu digunakan alasan-alasan untuk menggunakan obata-obatan. (wdd)