Kakak Beradik Kompakan Membobol Rumah Warga

Surabaya (wartasas.com) – Terdakwa dua orang bersaudara asal Jombang yang terlibat perkara dugaan tindak pidana pencurian disertai dengan pemberatan, akhirnya menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Kedua kakak beradik Moch Hefid alias Slamet (23) warga Sugihwaras Ngoro Jombang dan Moch. Sukem alias Kemi (31), akhirnya didudukkan di kursi terdakwa ruang sidang Garuda I PN Surabaya, untuk mendengarkan pembacaan dakwaan.

Pada persidangan yang terbuka untuk umum, Senin (10/7) itu, dihadapan majelis hakim yang diketuai Dedi Fardiman, Jaksa Neldy menyatakan bahwa peristiwa pencurian yang dilakukan kedua terdakwa tersebut terjadi Rabu (12/4) sekitar pukul 12.00 Wib di Perumahan Grand Lake CM 5 No. 20 Lidah Kulon Surabaya.

“Awalnya, terdakwa Hefid mengajak terdakwa Sukem naik sepeda motor menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) yakni Perum Grand Lake CM 5 no 20 Lidah Kulon Surabaya.” Tutur Jaksa Neldy dalam persidangan, Senin, (10/7/17).

“Sesampai di tempat itu, terdakwa Hefid menyuruh terdakwa Sukem untuk menunggu sambil melihat-lihat keadaan sekitar, sedangkan terdakwa Hefid menuju ke sebuah rumah yang berada di Perumahan Grand Lake CM 5 No. 20 Lidah Kulon Surabaya,“ tambahnya.

Sesampainya di rumah no. 20 tersebut, sambung Neldy, terdakwa Hefid langsung mencoba untuk mencokel pintu rumah namun tidak berhasil. Lalu terdakwa Hefid berjalan menuju ke belakang rumah, kemudian melihat besi ram-raman.

“Kemudian besi tersebut digunakan untuk memanjat dari belakang rumah. Setelah berhasil masuk, terdakwa Hefid kemudian memecahkan kaca pintu dengan linggis kecil hingga pecah. Terdakwa Hefid kemudian masuk ke dalam rumah dan langsung masuk lantai dua, mencongkel pintu kamar dengan linggis kecil,“ ungkap Jaksa Neldy membacakan surat dakwaan.

Terdakwa Hefid, lanjut jaksa Neldy, kemudian masuk ke kamar dan berhasil membawa empat kalung emas beserta gandulnya, 1 gelang, 10 gelang warna hijau, 10 anting emas, lima batu lilit emas, tiga cincin emas kuning, satu cincin emas putih, delapan emas batangan dan satu Ipad yang ada di dalam almari. Hefid kemudian pergi melalui belakang rumah. Keduanya kemudian pulang ke rumah kos.

Dalam surat dakwaan yang disusun Jaksa Anggraeny ini juga dijelaskan, untuk perhiasan berupa tiga batang emas, satu kalung emas, dua gelang emas dan satu gandul emas dijual ke Royka (DPO) di Jombang dengan harga Rp 25 juta.

Uang hasil penjualan perhiasan milik Lilyn Megawati tersebut kemudian diserahkan ke terdakwa Hefid. Dari hasil pencurian yang para terdakwa lakukan, terdakwa Sukem dapat bagian Rp 19 juta dan digunakan untuk membeli sepeda motor, tv dan kipas angin sedangkan terdakwa Hefid mendapat bagian Rp. 6 juta.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), dijelaskan Lilyn Megawati yang merupakan korban pencurian, menderita kerugian hingga Rp. 230 juta.

Kedua kakak beradik tersebut dijerat dengan pasal 363 ayat 1 ke-4, ke-5 KUHP atas perbuatannya melnggar hukum. (wdd)