Wanita Cantik di Hukum 2 Tahun Atas Tindak Pidana Penggelapan

Surabaya (wartasas.com) – Akibat tindak pidana penggelapan dalam jabatan yang dilakukan oleh wanita berparas cantik, kini Raissa Sylviana Halim (30), harus rela mendekam dalam jeruji besi dalam kurun waktu dua tahun.

Hukuman dua tahun penjara itu dibacakan hakim Mangapul Girsang, hakim yang ditunjuk sebagai ketua majelis pada perkara ini, pada persidangan yang digelar Rabu, 19 Juli 2017 diruang sidang Garuda 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, dihadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdakwa Raissa Sylviana Halim dan penasehat hukum terdakwa.

Terdakwa Raissa Sylviana Halim warga Klampis Indah Surabaya dilaporkan oleh Clarisa Gunardi selaku Kepala Administrasi PT. Istana Mobil Surabaya Indah dimana dalam laporannya tersebut Clarisa yang pernah dihadirkan sebagai saksi di persidangan menyatakan ditemukan delapan tanda terima pemesanan mobil dari customer yang uangnya tidak disetorkan di rekening PT. Istana Mobil Surabaya Indah, berdasarkan  bukti tanda terima warna kuning yang menjadi arsip bagian marketing, lembar putih untuk customer dan warna merah untuk accounting dan warna hijau untuk administrasi.

Hakim Mangapul mengatakan, setelah ada kejadian tersebut, tanggal 24 Januari 2017 pihak PT. Istana Mobil Surabaya Indah melakukan pemanggilan kepada terdakwa Raissa sebagai kasir yang saat itu sedang cuti melahirkan.

“Dan setelah diintrograsi, terdakwa mengakui bahwa sejumlah uang yang terdakwa terima dari customer sebanyak Rp. 460.391.000 juta yang merupakan jumlah keseluruhan dari delapan tanda terima tersebut tidak disetorkan ke rekening perusahaan PT. Istana Mobil Surabaya Indah sebagaimana mestinya,” kata Hakim.

“Namun terdakwa malah menyimpan lembar berwarna merah dan hijau yang semestinya diserahkan ke bagian administrasi dan keuangan. Lembar warna merah dan hijau tersebut malah terdakwa simpan di dalam mobil pribadinya dengan maksud jumlah nominal uang pada rekening perusahaan sesuai lembar tanda terima yang ada di bagian admin dan keuangan,“tambahnya menjelaskan.

Majelis hakim mengatakan bahwa sejumlah uang yang dimaksudkan dalam kedelapan tanda terima tersebut, telah terdakwa gunakan untuk menutupi kekurangan-kekurangan tagihan sebelumnya yang tidak terdakwa setorkan dan telah berlangsung sejak tahun 2012, dan hingga kini masih tersisa sebanyak Rp. 900 ribu.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim juga berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh terdakwa ini sudah ada niatan untuk dilakukan. Hal ini dapat dilihat bahwa tindakan tersebut sudah terdakwa lakukan sejak 2012 sehingga perbuatan yang dilakukan terdakwa ini dapat dipandang sebagai sebuah perbuatan berlanjut, sebagaimana diatur dalam dakwaan pertama, melanggar pasal 374 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

“Memperhatikan pasal 374 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP, pasal-pasal Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undan-Undang Hukum Acara Pidana, mengadili. Menyatakan terdakwa Raissa Sylviana Halim telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan yang dilakukan secara berlanjut sebagaimana diatur dalam pasal 374 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP. Menjatuhkan hukuman pidana terhadap terdakwa Raissa Sylviana Halim dengan pidana penjara selama dua tahun,“ terang Mangapul Girsang.

Selain menjelaskan tentang pertimbangan hukumnya, majelis hakim juga menjelaskan tentang hal-hal yang meringankan dan hal yang memberatkan atas diri terdakwa. Hal-hal yang meringankan, bahwa terdakwa belum pernah dihukum. Selain itu terdakwa adalah seorang ibu yang mempunyai tanggungan anak masih kecil. Hal-hal yang memberatkan, sepanjang persidangan tidak ditemukan.

Hukuman pidana penjara ini lebih ringan satu tahun jika dibandingkan tuntutan jaksa, dimana pada persidangan sebelumnya terdakwa Raissa Sylviana Halim ini dituntut tiga tahun penjara.

Atas perbuatannya tersebut, terdakwa didakwa dalam dakwaan kesatu melanggar pasal 374 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP. Terdakwa juga dijerat dalam dakwaan kedua JPU, melanggar pasal 372 jo pasal 64 ayat (1) KUHP tentang penggelapan. (wdd)