Rafella Kost Dijadikan Tempat Ajang Protistusi

Surabaya (wartasas.com) – Sebuah tempat kos harian di kawasan Kedungdoro, Surabaya, digerebek oleh Satgas Operasi Pekat polrestabes bersama Satpol PP karena, meskipun tinggal sehari lagi menjelang puasa masih digunakan sebagai tempat prostitusi.

Dalam penggerebekan yang digelar Jumat, 26 Mei 2017 tersebut, Satgas Operasi Pekat polrestabes berhasil mengamankan dua pasangan selingkuh, 1 PSK, dan 1 Mucikari.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga, mengungkapkan bahwa tempat kost menjadi sasaran utama pada Operasi Penyakit Masyarakat (pekat) sejak tanggal 23 Mei 2017 kemarin.

“Satu diantara sasaran tempatnya yaitu tempat prostitusi yang pada hari ini kita menemukan suatu kos yang dialih fungsikan sebagai tempat bagi pasangan yang lain jenis kelamin atau yang sejenis,” kata AKBP Shinto usai penggerebekan, Jumat, (26/5/2017).

“Dalam penggerebekan tersebut, petugas berhasil mengamankan, 2 pasangan selingkuh, 1 PSK, 1 Mucikari, uang tunai dan data tamu yang check in short time,” imbuhnya.

Masih menurut Shinto, tempat kos berlantai tiga tersebut diketahui tidak digunakan semestinya. Tempat kos yang dimaksud bernama Rafella Kost, berada di Jalan Kedungdoro No.94 Surabaya. Saat melakukan grebekan, polisi mencatat tamu yang hadir disebuah kos-kos an berwarna kuning tersebut. Terdapat delapan orang yang terjaring dalam operasi gerebekan di Rafella Kost.

“Delapan orang tersebut berinisial DW (24) pria asal Simomulyo Surabaya yang mengaku sebagai germo (pemilik jasa prostitusi), RES (24) pria asal Jalan Banyu urip Surabaya sebagai korban trafiking,” terng AKBP Shinto.

Tak hanya itu, polisi juga mengamankan sepasang tamu di luar nikah berinisial MJ (33) wanita asal Jalan Darmo Permai. Saat itu, MJ sedang bersama ES (31) asal Sukomanunggal Surabaya.

Selain pasangan tanpa surat nikah, grebekan tersebut juga menjaring pasangan gay. Keduanya berinisial RS (45) asal Simo Tambaan Surabaya yang bersama AF (31) pria asal Tegalsari, Surabaya.

“Berdasarkan pemeriksaan, kos harian ini tidak memiliki izin yang dikeluarkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya. Hanya ada izin IMB-nya saja. Izin dari Disbudpar tidak ada,” kata Djoko Wiyono Kasi Operasional Satpol PP Surabaya.

“Kos ini akan kami tutup. Sebelumnya kos ini juga pernah kami razia tahun lalu. Saat itu bahkan ada banyak pasangan mesum yang kami jaring. Ada 11 pasangan mesum yang kami jaring saat itu,” tegasnya.

Setiap harinya, tercatat ada sekitar 25 orang yang berkunjung ke tempat ini. Dan,
25 orang tersebut menurut polisi datang hanya beberapa jam berada di kamar kos. Polisi menyimpulkan bahwa kos kosan tersebut telah disalahgunakan sebagai tempat kegiatan prostitusi. (wdd)