Pemalsu Pita Cukai Rokok diancam pidana

Surabaya (wartasas.com) – Pengadilan Negeri (PN) Surabaya kembali menggelar sidang terdakwa Abdul Rahman Setiawan yang diduga melakukan tindak pidana pemalsuan pita cukai rokok, pada Selasa, (25/4) dengan menghadirkan enam orang saksi.

Pada persidangan yang terbuka untuk umum di ruang sidang Cakra ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arif Usman dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya menghadirkan enam orang sebagai saksi.

Saksi yang dihadirkan JPU tersebut, bernama Ahmad Rizal Prasetya, Rakaditya Alendtha Mappakaya, keduanya pegawai Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai, Ahmad Rifai, sopir yang disewa terdakwa, Lilik Churnia, pemilik mobil APV yang disewa terdakwa, Edi Prabowo dan Sugeng Sukmo Utomo.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Sarwedi, saksi Ahmad Rizal Prasetya, Rakaditya Alendtha Mappakaya, kedua PNS Bea Cukai ini dimintai keterangan terkait apa yang dilakukan terdakwa Abdul Rahman Setiawan. Kedua saksi mengatakan bahwa sempat membuntuti mobil yang ditumpangi terdakwa Abdul Rahman Setiawan.

“Kami sempat membuntuti mobil APV nopol W 1380 NM yang ditumpangi terdakwa. Namun, mobil itu melaju sangat kencang sehingga terjadi kejar-kejaran hingga akhirnya mobil terdakwa dapat kami hentikan,“ ucap Rakaditya.

Selain bertanya kepada saksi dari Bea Cukai dan dari sopir yang disewa terdakwa, majelis hakim juga menanyakan ke saksi Lilik Churnia terkait mobil Suzuki APV yang dikendarai terdakwa dan Ahmad Rifai.

Dihadapan majelis hakim, saksi Lilik Churnia mengaku jika mobil yang dipakai terdakwa dan sopirnya itu adalah miliknya yang baru ia kredit selama tiga tahun dari masa kontrak kredit selama empat tahun.

“Mobil ini milik saya pak hakim, baru saya kredit selama tiga tahun. Saya tidak tahu kenapa terdakwa kok memilih meminjam mobil APV ini, biasanya terdakwa menyewa mobil saya yang lain. Terdakwa baru membayarkan uang sewa mobil di bulan Februari sebesar Rp. 1 juta,“ terang saksi Lilik menjawab pertanyaan hakim.

Perbuatan terdakwa Abdul Rahman Setiawan, masih dalam uraian dakwaan JPU, bahwa terdakwa yang membuat secara melawan hukum, membeli, menyimpan, mempergunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau mengimpor pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya yang dipalsu atau dipalsukan.

Menurut dakwaan JPU, bahwa terdakwa Abdul Rahman Setiawan telah menawarkan, menyerahkan, menjual atau menyediakan untuk dijual barang kena cukai yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau tidak dilekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai lainnya.

Terdakwa, dalam dakwaan kedua JPU diancam pidana melanggar pasal 55 huruf (b) Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 tentang cukai. (Par/wdd)