Maraknya Kasus Kekerasan dan Radikalisme Agama

Surabaya (wartasas.com) – Kontras mencatat salah satu kasus kekerasasn dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang paling intens akhir akhir ini adalah kekerasasn dan pelanggaran hak asasi manusia yang dikarenakan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Karena itu, Kontras (Korban Tindak Kekerasan) bersama Komisi untuk Orang Hilang serta didukung Kemenag dan Polda Jatim menggelar dialog terkait Radikalisme dan Kekerasan Berlatarbelakang Agama di Jawa Timur.

Dialog yang digelar, Jumat, 27 Januari 2017 di Surabaya dihadiri langsung oleh Ketua Badan Pengurus Kontras Surabaya, Andi Irfan, Ketua Komnas HAM Dr. Imdadun Rahmat, Kepala Kemenag Effendy dan Kasubdit Intelkom Polda Jatim AKBP Asmoro.

Ketua Badan Pengurus Kontras Surabaya, Andi Irfan, dalam dialog menyampaikan, kasus kekerasan dan radikalisme agama, seruan kekerasan selalu dimulai dengan ujaran kebencian (hate speech) dan pengujatan (blasphemy) di panggung-panggung publik.

“Kesimpulan tersebut diperoleh dari laporan penelitian kekerasan dan radikalisme agama di Jawa Timur tahun 2016. Dan, meluasnya potensi kekerasan dan radikalisme berlatarbelakang agama belum diimbangi dengan kerjasama lintas sektoral dalam upaya pencegahan.” Kata Andi dalam dialog, Jumat, (27/1/17).

“Kekerasan akan segera dicegah apabila ujaran kebencian dan penghujatan sedari awal direspon oleh pemerintah dan kepolisian. Ketiadaan sistem pencegahan atas meluasnya ujaran kebencian dan penghujatan hanya akan memperluas potensi kekerasan,” tambahnya.

Dikesempatan yang sama, Koordinator Kontras Surabaya, Fatkhul Khoir menambahkan, dalam kasus terorisme, Jatim merupakan salah satu basis kuat dari usroh (organisasi sel) yang dikembangkan Jamaah Islamiyah.

“Kontras mencatat, salah satu kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang paling intens dalam lima tahun terakhir ini adalah kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia berlatarbelakang hak kebebasan beragama dan berkeyakinan,” terang Khoir.

“Sejumlah komunitas minoritas terancam hak-haknya yang paling mendasar hanya karena meyakini suatu keyakinan yang berbeda dengan masyarakat secara mainstream,” ungkapnya.

Sikap intoleran, anti keberagamaan, dan lemahnya penghormatan atas hak kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah wilayah hulu, yang kemudian akan bermuara pada wilayah hilir, yaitu menguatnya tendensi kekerasan, radikalisme dan terorisme berlatangbelakang agama.

Pada periode Januari-Desember 2016, Kontras Surabaya mencatat 10 peristiwa intoleransi dalam bentuk fatwa sesat terhadap Gafatar, dakwa dan syiar kebencian, aksi demo dan terjadi penangkapan terduga teroris terjadi 7 peristiwa dengan jumlah orang yang ditangkap 13 orang yang tersebar dibeberapa daerah di Jatim. (Tls)

Add a Comment