“Istirahatlah Kata Kata”

Surabaya (wartsas.com) – Dalam rangka mengapresiasikan pemutaran film perdana “Istirahatlah Kata-kata” yang akan serentak diputar di bioskop  seluruh Indonesia,  Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya menggelar jumpa pers.

Film “Istirahatlah Kata-kata” menceritakan sosok Wiji Thukul, seorang penyair yang dikenal lantang meneriakkan ketidakadilan melalui panggung demonstrasi, serta beberapa aktivis yang dianggap hilang sejak 1998, setelah dituding sebagai dalang kerusuhan di tahun 1996.

Jumpa Pers yang digelar, Rabu, 18 Januari 2017 di kantor Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya, menghadirkan, Ketua Kontras Surabaya Fathul Khoir, Ketua Ikohi Jatim Sukis  dan Ayah Bimo Petrus Aktivis 98 yang hilang, Hutomo Rahardjo.

Ketua Kontras Surabaya Fathul Khoir dalam jumpa pers mengatakan, bahwa film ini menjadi suatu media untuk kita belajar bagaimana teman-teman kita dulu berjuang menegakkan demokrasi.

“Dan sengaja kita hadirkan bapak Hutomo Rahardjo, Ayah dari Bimo Petrus Aktivis 98 yang hilang, agar dapat bercerita fakta kepada masyarakat sehingga mengingatkan kembali kepada seluruh mayarakat terutama pemerintah, bahwa masih ada “PR” yang belum selesai.” Ucap Khoir dalam jumpa pers, Rabu, (18/1/17).

Dikesempatan yang sama, Hutomo Rahardjo Ayah kandung dari Bimo Petrus, satu dari 13 aktivis yang hilang bersama Wiji Tukul, menyatakan rasa senangnya akan ditayangkan film yang berjudul “Istirahatlah Kata-kata”.

“Bagi kami, film ini memberikan dukungan supaya mereka tidak melupakan bahwa 19 tahun yang lalu pernah terjadi penghilangan secara paksa aktivis yang berjuang dengan kata-kata. Termasuk Bimo Petrus, anak saya, yang hilang bersama Wiji Tukul,” terang Hutomo Rahardjo dengan mata berkaca kaca namun terlihat tegar.

“Semoga saja, dengan diputarnya film ini, dapat membuka mata pemerintah untuk terus menuntaskan kasus hilangnya para aktivis. Dan, tidak menutup kemungkinan kasus tersebut bisa dibongkar sampai menemukan jawaban antara hidup dan mati,” ungkapnya.

“Kami ikhlas dan siap untuk menerima kemungkinan terjelek kondisi putra kami, kalaupun mati dimana kuburnya dan andai masih hidup dimana sekarang berada. Dan, kami tidak pernah letih untuk terus berjuang,” pungkas Hutomo.

Ketua IKOHI Jawa Timur Sukis juga menambahkan, bahwa film ini menjadi pintu pembuka untuk menunjukkan bahwa kasus hilangnya 13 aktivis pro demokrasi angkatan reformasi tahun 1998 itu belum selesai.

“Film ini menjadi pengingat bagi kita, agar jangan lupa dengan nasib Widji Thukul dan orang hilang.  Serta, mengajak masyarakat untuk terus mengingatkan pemerintah akan hilangnya para aktivis yang belum diketahui keberadaannya. Film tersebut akan tayang serentak mulai 19 Januari 2017,” urai Sukis. (Tls)

Add a Comment