Diduga Palsukan Surat Kuasa, Chin Chin Melaporkan Kedua Pengacara Gunawan

Surabaya (wartasas.com) – Kecewa atas tindakan yang dilakukan oleh kedua pengacara mantan suaminya Gunawan Angkawidjaja yang diduga memalsukan surat kuasa, dan menyembunyikan tersangka/DPO sehingga menghalang halangi penyidikan, membuat Trisulowati alias Chin-chin terpaksa kembali mendatangi Mapolda Jawa Timur.

Kedatangan Trisulowati alias Chin-chin yang didampingi oleh Dr. Hotman Paris Hutapea dan Tim Kuasa Hukum di Polda Jawa Timur pada Senin, 05 Februari 2018 guna melaporkan kedua pengacara tersangka Gunawan yaitu AM dan ENH.

Trisulowati alias Chin-chin mengatakan bahwa dirinya terpaksa melaporkan kedua pengacara mantan suaminya AM dan ENH ke Polda Jawa Timur. Karena, kedua pengacara tersebut diduga melakukan tindakan untuk menghalang halangi penyidikan.

“Disini saya melaporkan AM dan ENH kedua pengacara, sesuai pasal 263 atas dugaan pemalsuan surat kuasa dan baik tanggal dan tanda tangannya,” tutur wanita ramah yang akrab disapa Chin Chin saat ditemui di SPKT Polda Jatim Senin, (05/02/18).

“Serta, sesuai  ayat 1 KUHP atas dugaan menyembunyikan tersangka Gunawan Angkawidjaja yang saat ini berstatus DPO oleh aparat kepolisian, serta menghalang-halangi proses penyidikan,” tambahnya.

Masih menurut Chin Chin,  dirinya merasa ada yang janggal pada pengajuan gugatan praperadilan ini. Dimana LP nomer 100, status Gunawan baru ditetapkan sebagai tersangka pada 2 Januari 2018. Namun muncul surat kuasa ditandatangani tertanggal 27 Oktober 2017.

“Artinya surat kuasa tersebut dibuat sebelum Pak Gunawan menjadi tersangka. Selain itu, tanda tangan Pak Gunawan dilihat dari garis tangan tidak sama. Karena, saya hafal tanda tangan beliau (red.Gunawan),” terang Chin Chin.

Ditempat yang sama, Hotman Paris Hutapea kuasa hukum Trisulowati mengatakan, bahwa, apa yang dilakukan pihak Gunawan tersebut telah melecehkan institusi Polri sebagai penegak hukum.

“Kok bisa mengajukan praperadilan tanpa kehadiran (Gunawan), jajaran kepolisian dilecehkan begitu saja. Berbulan-bulan dia DPO, bahkan saat menjadi tersangka pun tidak mau hadir,” papar Hotman.

Hotman juga menjelaskan, pada saat Gunawan melaporkan istrinya, dirinya sangat aktif datang ke Polda, serta sangat aktif melobi Polda.

“Harusnya kasus ini ditolak pada saat pendaftaran. Karena, tidak memenuhi syarat formal, itu yang pertama. Kedua, perkara digabungkan menjadi satu itu tidak boleh, karena itu dua perkara yang objeknya berbeda dan bukti-buktinya juga berbeda,” tegas Hotman.

Atas upaya praperadilan yang diajukan Gunawan, Hotman paris menghimbau ketua Mahkamah Agung segera mengirimkan telegram kepada Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, berisi penghentian proses hukum tersebut karena dinilai melanggar aturan. (wdd)