Wujudkan Klinik Rehabilitasi Gangguan Jiwa Berat, Unusa Ajak Korea Selatan Bekerjasama

Surabaya (wartasas.com) – Dalam rangka mewujudkan sebuah tempat rehabilitasi psikososial bagi pasien gangguan jiwa berat, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ajak Yongin Mental Hospital, Gyeonggi Province, Republic of Korea bekerjasama.

Bentuk kerjasama tersebut dituangkan dalam MoU yang dilakukan pada Jumat, 13 Juli 2018 di Tower Unusa Kampus B Jemursari Surabaya dengan dihadiri oleh Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, didampingi Ketua Tim CMHC Unusa, dr. Hafid Algristian, SpKJ dan dari pihak Yongin Mental Hospital.

Ketua Tim CMHC Unusa, dr. Hafid Algristian, SpKJ mengatakan awal kerjasama dengan Yongin Mental Hospital ini ketika dia mendapatkan pelatihan tenaga rehabilitasi pasien gangguan jiwa di Korea, April lalu.

“Dari sana mulai tergerak untuk membawa ini ke Unusa. Apalagi Unusa juga punya klinik pratama. Sehingga nantinya kalau ini berjalan, maka Klinik Pratama Unusa ini akan menjadi yang pertama tempat rehabiitasi non rumah sakit,” ucap dr. Hafid usai melakukan MoU di Kampus B Unusa, Jumat, (13/07/18).

“Tempat rehabilitasi ini di Klinik Pratama di Kampus A Unusa Jalan Smea yang selama ini ada. Klinik ini nantinya juga akan difungsikan sebagai tempat rehabilitasi pasien gangguan jiwa berat sebelum pasien dipulangkan dari rumah sakit jiwa ke rumahnya. Di Klinik ini, Unusa akan membentuk sebuah komunitas bernama Community Mental Health Center (CMHC),” tambahnya.

Korea khususnya di dengan Yongin Mental Hospital, diakui dr. Hafid sangat bagus dalam hal penanganan pasien gangguan jiwa pasca dari rumah sakit. Bagaimana pasien-pasien itu dilatih keterampilan agar bisa mandiri selepas dari rumah sakit.

Nantinya, klinik Pratama Unusa ini akan bekerjasama dengan rumah sakit yang khusus merawat pasien gangguan jiwa misalnya RSJ Menur, Lawang  dan RSU dr. Soetomo. Juga akan bekerjasama dengan komunitas-komunitas pasien dan keluarganya. Misalnya Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, Komunitas Harmony in Diversity (untuk pasien bipolar).

Selain itu akan bekerjasama dengan yayasan non government organization (NGO) seperti Yayasan Hotline Surabaya, Rumah Kartika Cordelia dan sebagainya. Sehingga ketika pasien sudah diperbolehkan pulang, maka pasien akan langsung mendapatkan penanganan dari tim CMHC Unusa untuk pemberian pelatihan-pelatihan.

Dalam hal ini, Yongin Mental Hospital akan melakukan supervisi terhadap klinik ini selama satu tahun. Unusa sendiri menarget pada tahun depan, klinik rehabilitasi ini bisa mulai melakukan kegiatannya. Sehingga benar-benar menjadi unggulan dan menjadi yang pertama untuk klinik rehabilitasi gangguan jiwa berat.

Nantinya, klinik ini akan menjadi unggulan karena tim yang ada di sana memiliki kemampuan yang sangat mumpuni. Ada psikiater, perawat khusus dan peralatan – peralatan yang dibutuhkan sebagai standar klinik rehabilitasi gangguan jiwa  dan sebagainya.

Selain itu, diakui dr. Hafid, Unusa memiliki tim Karsewa  (Kader Kesehatan Jiwa) yang terdiri dosen dan mahasiswa keperawatan juga kader kesehatan dari masyarakat sekitar. Di mana kader ini akan dilibatkan untuk melakukan tindakan preventif terhadap pasien gangguan jiwa. (Tls)