Tingkatkan Kualitas Siaran, KPI dan Unesa Laksanakan Survei Kualitas Siaran Televisi

Surabaya (wartasas.com) – Menggandeng 12 Perguruan Tinggi Negeri di seluruh Indonesia, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat mengadakan Survei indeks kualitas siaran televisi untuk alternatif evaluasi yang bisa dijadikan sebagai masukan untuk industri media penyiaran agar media tidak hanya sekedar berbicara tentang rating tetapi juga mengutamakan kualitas tayangan.

Kegiatan Survei indeks kualitas siaran televise yang diselenggarakan selama dua hari dari tanggal 4-5 Mei 2018 di Hotel Bumi Surabaya dibuka oleh Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono., M.S. didampingi Komisioner KPI Pusat Nuning Rodiyah.

Dalam sambutannya, Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada KPI Pusat yang mempercayakan Unesa sebagai salah satu Perguruan Tinggi di Jawa Timur untuk melaksanakan survei indeks kualitas siaran televisi tahun 2018.

“Kegiatan ini sebagai awal pelaksanaan survei kualitas siaran televisi yang di inisiasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia-KPI Pusat bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa),” ucap Rektor Unesa yang akrab disapa Warsono dalam sambutannya, Jumat, (04/05/18).

Forum diskusi tersebut selain melibatkan para panel ahli dari program studi Ilmu Komunikasi Unesa, juga dihadiri kalangan akademisi dari Universitas Airlangga, STIKOSA-AWS Surabaya, Pengurus Aisyiyah Jatim, serta Dewan Pendidikan Kota Surabaya.

Dikesempatan yang sama, Komisioner KPI Pusat Nuning Rodiyah mengatakan bahwa, survei dilaksanakan dengan mengambil responden di beberapa kota besar di Indonesia seperti Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makasar.

“Saat ini acara televisi yang memiliki rating tertinggi adalah sinetron sedangkan televisi yang menyiarkan program berita justru mendapatkan share yang sangat kecil. Ini tentu menjadi perhatian banyak pihak termasuk pentingnya menggali masukan dari para ahli dan responden tentang kualitas program tayangan, kata Nuning,” terang Nuning.

Sedangkan, Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya Drs. Martadi., M.Sn yang juga menjadi tim panel ahli dalam FGD tersebut menyampaikan media televisi kini sudah menjadi bagian dari “Catur Pilar Pendidikan” selain sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Tayangan media begitu kuat mempengaruhi perilaku anak-anak kita. Hal ini bisa dicermati dari perilaku mereka, cara berbicara yang jauh dari etika, cara berpakaian yang mulai mengabaikan tatakrama kesopanan, dan pilihan figur idola yang jauh dari kriteria ideal, merefleksikan apa yang ada dalam tayangan media TV.

“Bagaimana anak bisa tumbuh berkembang dengan baik jika para orang tua khususnya ibu-ibu setiap hari menonton  sinetron, ujar Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unesa tersebut. Hampir 70% tayangan televisi dominan bersifat viceral (dunia mistik, infotainment gosip, dan sinetron), akan memunculkan perilaku budaya ‘snobisme’, sikap kepura-puraan, dan enggan bernalar,” papar Martadi.

Institusi pendidikan harus terus meningkatkan kualitas pembelajarannya didukung keteladanan keluarga, lingkungan masyarakat yang kondusif serta tayangan media yang mencerdaskan. Hal ini menjadi salah satu bahasan yang mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD) terkait Kualitas Program Siaran Televisi. (Tls)