Tangkis Isu Hoax, Mahasiswa UK Petra Punya Cara Kreatif

Surabaya (wartasas.com) – Maraknya informasi yang kurang jelas dan isu isu Hoax yang sering beredar membuat resah masyarakat, menjadi inspirasi baru bagi mahasiswa Petra (UK Petra) untuk ciptakan cara baru dan kreatif menangkis berita berita Hoax.

 Atas kreatifitas tersebut, dua tim mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menorehkan prestasi di Ajang Insan Kreatif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Ajisaka UGM) dalam kategori SADEWA (Sayembara Dewa Pariwara). Mereka berhasil mendapatkan penghargaan Best Radio dan Best Television pada tanggal 27 Oktober 2017 yang lalu di UGM, Yogyakarta.

Kategori SADEWA ini merupakan kompetisi iklan dengan media radio, televisi dan print ad. Mereka harus melalui babak penyisihan dengan mengumpulkan proposal dan file rekaman iklan.

Dari total 98 tim, terpilih 5 tim yang melaju ke babak final untuk masing-masing kategori. Pada babak final, peserta dibebaskan untuk memilih medium iklan yang akan digunakan, dengan tujuan yang tetap sama yaitu mengajak digital imigran (usia 44-54 tahun) untuk lebih bijak memilah informasi.

Tema dalam kompetisi ini adalah “Light of the Ages”, dimana realitas virtual sejatinya bukan hanya milik generasi millenials. Generasi-generasi sebelumnya pun berhak untuk memanfaatkan media sosial sebagai salah satu wadah berinteraksi.

Namun, problema muncul ketika kabar burung (hoax) berseliweran sehingga tidak mampu ditanggulangi dengan benar, mau tidak mau generasi millenials bertanggungjawab merumuskan langkah yang tepat untuk kasus ini. Kedua tim UK Petra ini meraih penghargaan Best Radio dan Best TV dimana mereka berhak mendapatkan sertifikat dan uang sebesar Rp 500.000,-.

Juan Richard dan Reyno Putradewa Santosa, itulah mahasiswa Prodi DKV UK Petra yang berhasil menyabet gelar Best Radio untuk karyanya yang diberi judul “Naik Mobil Harus Pake Helm”.

Dalam karyanya yang berdurasi 30 detik itu mengajak para pendengar untuk lebih berpikir kritis dalam menerima sebuah informasi. Mereka terinspirasi dari kasus “Sarah Chen” yang marak terjadi beberapa waktu yang lalu.

“Ini membuktikan bahwa hoax mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk menyebarkan kebencian dan mempengaruhi orang. Sebab ketika hoax tersebar secara massal maka kebanyakan orang akan mempercayainya,” kata Juan.

Insipirasi ini dikaitkan dengan kisah dari teman mereka pernah ditilang polisi karena tidak menggunakan helm padahal mengendarai mobil sport (kap terbuka).

“Bagi orang awam, jika naik mobil ya tidak perlu memakai helm padahal sebenarnya dalam peraturan berkendara jika menggunakan mobil dengan kap terbuka maka harus menggunakan helm”, rinci Reyno.

Dalam membuat iklan ini, tidak menghabiskan banyak dana sebab mereka cukup menggunakan peralatan pribadi mereka akan tetapi bukan artinya mereka tak mengalami kendala dalam membuatnya.

Lain halnya dengan Yonathan Christie Yusanto dan Efatha Arauna Lumadyo yang memilih media TV komersial dalam Ajisaka 2017 ini. Iklan yang berdurasi satu menit ini menceritakan bahwa ketika ada orang yang menyebarkan informasi yang tidak benar adanya (hoax) maka kondisi masyarakat menjadi kacau.

Iklan ini bercerita mengenai seorang laki-laki yang duduk diwarung dan sedang membaca berita hoax. Saat akan membagikan hoax ini, tiba-tiba para pengunjung warung yang lain di warung menjadi tidak bisa dikendalikan. Sebaliknya saat mematikan ponsel keadaan sekitar warung kembali tenang.

Dalam video ini Yonathan dan Efatha ingin mengingatkan sekaligus menyentil tentang kebiasaan buruk para pengguna internet dengan cara menggambarkan tentang kekacauan yang terjadi akibat penyebaran berita palsu tersebut.

“Harapan saya dalam video tvc ini masyarakat menjadi mengerti tentang penyebaran berita melalui sosial media haruslah di pikir dan ditelaah lebih lagi. Karena realitanya kekacauan sering terjadi karena penyebaran berita yang ngawur dan belum tentu benar yang memojokkan satu golongan sehingga memicu pertikaian,” urai Efatha. (Tls)