Setiap Anak Berhak Mendapatkan Pendidikan Sama Termasuk ABK

Surabaya (wartasas.com) – Semua warga Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang sama, termasuk pada anak disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Untuk itu, dengan menggandeng pemprov Jatim, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan Talkshow tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Inklusi dan Disabilitas.

Acara yang bertajuk “Ensuring Acceess and Quality Education for Students with Disabilities in Indonesian Universities” pada Rabu, 25 April 2018 di Kampus Unesa Lidah Surabaya, dihadiri perwakilan dari Kemenristekdikti, Konsorsium Eropa, Pemprov Jawa Timur, Koordinator Project Manajer INDOEDUC4ALL Indonesia dan Kepala PSLD (Pusat Study Layanan Distabilitas) Unesa.

Direktur Pembelajaran Kemenristek Dikti Dr. Paristiyanti Nurwardani, MP, dalam paparannya menyampaikan bahwa, semua anak anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang sama, termasuk pada anak disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus/ABK.

“Berbagai upaya telah dilakukan oleh kementrian untuk pendidikan khusus baik berupa pelayanan maupun regulasi. Berbagai bimbingan teknis/bimtek dan pendampingan juga diberikan kepada perguruan tinggi dalam penerimaan anak disabilitas,” ucap Kemenristek Dikti dalam paparannya, Rabu, (24/04/18).

“Selain itu, tahun ini Kemenristek Dikti telah menyiapkan beasiswa untuk 1000 mahasiswa/mahasiswi disabilitas mulai tingkat awal hingga lulus. Bagi para dosen kami mohon bisa melakukan reorientasi kurikulum khusus bagi mahasiswa disabilitas. Dan terimakasih bagi para relawan pendidikan inklusi,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Kepala PSLD Unesa Dr. Budiyanto, M.Pd mengatakan banyak program yang akan dilakukan untuk meningkatkan pendidikan dan komunikasi bagi ABK. Karena, di Indonesia, tidak semua ABK bisa terfasilitasi dengan baik.

“Di luar negeri setiap kebutuhan khusus bahkan yang menyangkut emosi anak difasilitasi, di sini tidak. Yang difasilitasi yang sudah jelas ABK seperti tuna rungu, tuna netra, tuna grahita dan lainnya. Untuk itu, PSLD Unesa mengajak SMA inklusi, SMK inklusi maupun SMA Luar biasa untuk bisa mengubah asumsi masyarakat terhadap ABK. Bahwa pembelajaran ABK tak sekedar tentang keterampilan, tetapi juga bagaimana menyiapkan ABK agar bisa masuk ke perguruan tinggi,” terang Budiyanto.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Biro Humas, Protokol, dan Kerjsama Prov. Jatim Drs. Benny Sampirwanto, M.Si bahwa, Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan pendidikan inklusi untuk bisa memberikan hak yang sama di bidang pendidikan pada anak disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus/ABK. Hal ini juga sejalan dengan program yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat tepatnya Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi/Kemenristekdikti.

“Kita saat ini masih dalam masa transisi, karena masih banyaknya sekolah luar biasa/SLB yang ada di Jatim.  Saat ini progresnya cukup  bagus, hanya butuh proses,” ungkap Benny.

Menurutnya, penanganan ABK membutuhkan sinergitas dari berbagai pihak baik pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Kebersamaan ini adalah kunci keberhasilan dalam menangani dan memberdayakan anak-anak disabilitas.

Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah terkait kesiapan anak disabilitas yang telah lulus dari perguruan tinggi  dalam memasuki dunia kerja. Salah satunya dengan memberikan pembekalan cukup bagi lulusan disabilitas sehingga bisa memenuhi kriteria perusahaan. Selain itu, juga melakukan pendekatan secara persuasif ke perusahaan untuk mau menerima lulusan disabilitas.

“Apalagi sekarang ada peraturan yang menetapkan bahwa setiap perusahaan tenaga kerjanya minimal 2 persen tenaga kerja disabilitas,” urainya. (Tls)