Pakde Karwo : Dalam Motif Kain Batik Terkandung Filosofi dan Makna

Surabaya (wartasas.com) – Batik merupakan ciri khas dan kerajinan turun temurun yang memiliki kultur atau budaya peninggalan sejarah bangsa Indonesia. Guna mendukung pelestarian sekaligus mendorong para perajin dan pengusaha UKM khususnya batik untuk terus meningkatkan daya saing, Pemerintah Provinsi kembali menggelar Pameran Batik, Bordir dan Aksesoris Fair 2018.

Pameran Batik, Bordir dan Aksesoris Fair 2018 bertemakan “The Allurement of Tenun Ikat Bandar Kidul Kediri” yang digelar selama lima hari sejak tanggal 9-13 Mei 2018 diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo pada Rabu, 09 Mei 2018 di  Exhibition Hall Grand City Surabaya.

Dalam sambutannya, Pakde Karwo sapaan akrab gubernur Jatim menyampaikan bahwa, pameran yang diikuti 239 peserta dari 38 kab/kota di Jawa timur ini bertujuan mendorong para pengrajin UKM dan pengusaha UKM untuk terus meningkatkan daya saing.

“Peningkatan ini salah satunya dengan mempertahankan ciri khas dan motif kerajinan yang sesuai dengan kultur atau budaya masing-masing daerah,” kata Pakde Karwo dalam sambutannya, Rabu, (09/05/18).

“Dalam motif selembar kain batik terkandung filosofi yang kuat. Sehingga tak sekedar gambar, lebih dari itu ada makna kuat yang ingin disampaikan dalam motif tersebut. Apalagi, setiap daerah di Jatim punya motif batik yang beragam dan menggambarkan ciri khas wilayah masing-masing sebagai pakem yang harus dipegang,” tambahnya.

Menurut Pakde Karwo, produk batik, bordir dan aksesoris dari Jatim sangat diminati oleh masyarakat luas. Tidak hanya pasar dalam negeri saja, tapi juga mancanegara.

“Kami berharap, para perajin dan pelaku industri UKM ini untuk konsisten dan memegang kunci berbisnis yakni kejujuran,” harap Pakde Karwo.

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jatim, Dra. Hj. Nina Soekarwo, M.Si juga menambahkan, pameran batik, bordir dan aksesoris merupakan cerminan rasa nasionalisme dimana sebagai masyarakat Jatim memiliki kebanggan terhadap produk kerajinan anak bangsa.

“Untuk itu Dekranasda Provinsi Jatim memiliki optimisme tinggi bahwa produk batik, bordir, tenun dan aksesoris Jatim dapat bersaing di pasar global, apalagi ditunjang oleh keberadaan asosiasi atau paguyuban sebagai wadah bagi pengembangan industri ini,” papar Bude Karwo.

Hingga saat ini, Dekranasda  bekerjasama dengan Pemprov Jatim telah memberikan fasilitasi bagi IKM kerajinan. Diantaranya fasilitasi HAKI (merek, cipta, desain) kepada 5.892 IKM, fasilitasi barcode kepada 117 IKM, fasilitasi desain kemasan kepada 190 IKM dan fasilitasi batik mark kepada 156 IKM.

Bude Karwo juga berpesan kepada perajin batik untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas dan kuantitas. Serta, tetap menjaga pakem dan filosofi batik yang sudah ada. (Tls)