Nabila : Makhluk Hidup Itu Harus Tunduk Kepada Sang Pencipta

Surabaya (wartasas.com) – Ada yang menarik dan memberikan kesan mendalam dari lukisan karya seniman kelahiran Kota Santri Gresik Jawa timur, Nabila Dewi Gayatri yang dipajang dalam gelaran pameran bersama di Singgasana Hotel Surabaya dalam rangka menyambut Hari Kartini.

Pameran bertemakan Metamorfosis yang diselenggarakan sejak tanggal 11 April hingga 10 Mei 2018 di Singgasana Hotel Surabaya diikuti oleh 31 pelukis wanita dari Jawa Timur dengan latar belakang usia berbeda.

Nabila Dewi Gayatri seniman lukis yang turut meramaikan pameran bertemakan Metamorfosis menyampaikan bahwa, lukisan karyanya yang diusung dalam pameran bersama kali ini bertemakan Rahmatan Lil’ Alamin.

“Sengaja saya melukis dengan wujud sosok yang sedikit menyeramkan dengan memiliki kepala seperti sangkar dengan dahan yang merunduk serta diputari oleh beberapa kupu kupu. Ini menggambarkan, bahwa, tidak selamanya memiliki penampilan maupun wujud yang menyeramkan itu jahat,” ucap wanita yang akrab disapa Nabila, saat dijumpai dalam pameran di Singgasana Hotel, Senin, (16/04/18).

“Dan, kupu kupu serta dahan yang merunduk sebagai wujud dan symbol, bahwa, kita sebagai makhluk hidup itu harus tunduk kepada Sang Pencipta. Sedangkan, maksud dari lukisan ini adalah menceritakan bahwa, hidup mencinta yang senantiasa dzikrulah. Menjadikan hidup rahmatan bagi makhluk baik manusia, Binatang dan tumbuhan,” tambahnya.

Nabila berharap, dengan mengapresuasi karya tersebut dapat menjadikan siapapun akan “eling” kepada Sang Pencipta-Nya. Karena, esensi Tuhan itu cinta, tentu saja makhluknya bisa menjadi pecinta. Sehingga, hidup itu dapat memberkati.

Dikesempatan yang sama, Ketua panitia pameran sekaligus pelukis Ida Fitriyah mengatakan bahwa, pameran ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April.

“Kali ini, pameran mengambil tema Metamorfosis. Metamorfosis dari telur menjadi kupu-kupu yang indah menjadi inspirasi tersendiri bagi para pelukis. Untuk menjadi indah ini sebelumnya kupu-kupu memerlukan pengorbanan serta perjuangan,” terang Fitri.

“Namun sayang, orang sering melupakan prosesnya. Gelaran tersebut juga merupakan cara pelukis untuk mengenang semangat Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita,” pungkasnya.

Dalam pameran lukisan bersama tersebut, Fitri mengajak seluruh seniman lukis wanita untuk turut menyemarakkan dengan memberikan karya karya terbaiknya. (Tls)