Bangkitkan Kecintaan Terhadap Ludruk, Meimura Gandeng Pelajar SMP

Surabaya (wartasas.com) – Bangkitkan kecintaan terhadap kesenian drama tradisional Jawa Timur “Ludruk” sejak dini, seniman Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya kembali melakukan inovasi baru dengan menggandeng para pelajar baik tingkat SD, SMP maupun SMA.

Kali ini, Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya pada Kamis, 11 April 2019 di Panggung Tobong Gedung Ludruk Kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, menggelar pentas ludruk bertemakan “Jalesveva Jayamahe” dengan menghadirkan 300 pelajar SMPN 40 Surabaya.

Meimura selaku sutradara Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya, mengaku bahwa, kecintaan terhadap ludruk di era modern ini semakin berkurang. Oleh karena itu, dirinya kembali mengajak para generasi milenial terutama para pelajar untuk kembali melestarikan dan mencintai ludruk sejak dini.

“Program ini merupakan salah satu komitmen teman teman seniman ludruk dengan para guru sekolah untuk mengangkat kembali kesenian ludruk. Dengan harapan, para pelajar bisa mencintai kembali ludruk,” kata Meimura usai pagelaran ludruk “Jalesveva Jayamahe”, Kamis, (11/04/19).

“Mendekatkan Ludruk pada generasi milenial menjadi hal yang sangat penting. Mengingat, saat ini generasi muda seolah kurang memahami bahwa Ludruk adalah salah satu warisan kekayaan budaya Nusantara,” sambungnya.

Dalam pagelaran ludruk bertemakan “Jalesveva Jayamahe” ini, Meimura juga menegaskan bahwa, acara ini para penonton dari SMPN 40 Surabaya sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. Tujuannya, untuk menarik minat para pelajar untuk hadir dan menikmati sensasi tontonan kesenian drama tradisional Jawa Timur “Ludruk”.

Ditempat yang sama, Staf Kesiswaan SMPN 40 Surabaya, Winartoyo mengatakan bahwa, kedatangan para siswa SMPN 40 di pagelaran ludruk ini disamping sebagai Outing Class juga ingin memperkenalkan kepada siswa bahwa Indonesia itu kaya akan kebudayaan salah satunya kesenian ludruk.

“Banyak siswa kami bertanya seperti apa sih ludruk itu. Oleh karena itu, kami sengaja mengajak para siswa ke Panggung Tobong Gedung Ludruk untuk menyaksikan langsung pagelarannya. Dengan harapan, para siswa semakin memahami bahwa ludruk itu kesenian yang harus dilestarikan,” terang Winartoyo.

“Ternyata, dari siswa kelas 2 dan 3 yang berjumlah 300 ini malah menikmati pagelaran ludruk sampai mereka  tertawa terpingkal pingkal,” imbuhnya dengan senyum bangga.

Sedangkan, Natasya Devita (14) pelajar SMPN 40 kelas 2 mengaku senang dan bangga. Ternyata ludruk itu bukan kesenian untuk orang tua saja. Akan tetapi juga bisa ditonton oleh anak anak dan remaja. Karena, konten ceritanya bisa disesuaikan dengan usia dan jaman.

“Ini kali pertama saya menyaksikan langsung kesenian ludruk. Ternyata lucu, menarik dan menghibur. Saya sampai tertawa keras. Ternyata pemainnya tidak didomisi orang dewasa atau orang tua saja, tapi juga bisa dimainkan oleh anak anak dan remaja. Dan, konten ceritanya menarik dan modern. Betul kata papa saya, ludruk itu harus dilestarikan. Karena itu merupakan aset yang sangat berharga,” ungkap Natasya. (Tls)