Pustakawan UNAIR Raih Penghargaan Berprestasi Terbaik

Surabaya (wartasas.com) – Memperingati HUT RI ke-74, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengadakan kompetisi pemilihan pustakawan berprestasi. Kompetisi ini diikuti oleh 29 peserta mewakili masing-masing provinsi di Indonesia.

Dalam kompetisi itu, pustakawan Universitas Airlangga (Unair) atas nama Novita Dwi Anawati, S.Sos., M.Sc berhasil meraih Juara II. Penetapan juara berlangsung di Hotel Aryaduta Jakarta, tepat saat HUT RI ke 74, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Ada beberapa indikator penilaian lomba. Antara lain, kemampuan kognitif yang mengukur pengetahuan tentang perpustakaan dan kepustakawanan, tes wawancara yang mengukur wawasan dan pandangan tentang peran perpustakaan dan pustakawan. Diujikan pula wawasan tentang keprofesian pustakawan.

Ada juga tes presentasi yang menguji pustakawan tentang program unggulan yang sudah dibuat dan diimplementasikan untuk mendukung pembangunan nasional dimana salah satu tujuannya adalah kesejateraan masyarakat.

Selain tiga tes tersebut, menurut Novita, selama dikarantina para pustakawan berprestasi juga dinilai tentang perilaku, kedisiplinan, dan etika dalam keseharian serta pergaulan.

Alhamdulillah atas anugerah dan berkah dari Alloh, karena banyak perwakilan dari provinsi lain yang memiliki program unggulan yang aplikatif di masyarakat,” ucap Novita.

Dalam kompetisi itu, peserta yang terlibat adalah para pustakawan berprestasi dari 29 provinsi di indonesia. Mereka bekerja di berbagai lembaga. Ada yang berasal dari perpustakaan kabupaten, perpustakaan provinsi, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan kementerian, hingga perpustakaan lembaga negara.

Dewan juri menetapkan enam juara dalam kompetisi tersebut. Juara I diperoleh pustakawan asal D.I Yogyakarta, Juara III pustakawan asal Jawa Barat, Juara Harapan I pustakawan asal Bali, Juara Harapan II pustakawan asal Sulawesi Selatan, dan Juara Harapan III pustakawan asal Jawa Tengah.

Menurut Novita, setiap pustakawan berprestasi punya tangung jawab untuk memajukan profesi pustakawan. Atas prestasi yang diraih, ia berharap penghargaan tersebut bisa menginspirasi para pustakawan lain di Indonesia agar lebih produktif dan berkontribusi.

“Harapan saya ke depan setiap pustakawan bisa menjadi outlier. Sehingga mereka memiliki keunikan dan keunggulan yang menjadikan pustakawan lebih valuable di masyarakat,” terang Novita.

Sebab, lanjutnya, ketika pustakawan valuable, maka profesi pustakawan akan mendapat apresiasi positif juga dari masyarakat. Pandangan atau opini yang diberikan oleh masyarakat terhadap profesi pustakawan sangat bergantung dari kualitas diri pustakawan itu sendiri.

“Pustakawan harus bertransformasi lebih produktif dan valuable,” pungkasnya. (Tls)