Penyandang Disabilitas Punya Hak Sama Dalam Pendidikan

Surabaya (wartasas.com) – Seringkali anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas kurang mendapatkan perhatian di masyarakat maupun di sekolah, terutama terkait haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Hal tersebut terjadi bisa disebabkan karena kurangnya tenaga pengajar khusus untuk para penyandang disabilitas. Oleh karena itu, Perpustakaan UK Petra Surabaya bekerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) mengadakan kegiatan sosialisasi unit layanan disabilitas.

Kegiatan sosialisasi yang dikemas dalam bentuk seminar pada Sabtu, 28 April 2018 di Ruang Teater Perpustakaan UK Petra, menghadirkan tiga pembicara yaitu Gunawan Tanuwidjaja,M.Sc., IAI dosen Program Studi Arsitektur UK Petra, Dr. Arina Hayati, S.T., M.T sebagai disabilitas dan pengajar di ITS-Surabaya serta Tri Fatchu Yusrinawati,S.Pd. guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Siswa Budhi-Surabaya.

Dian Wulandari, S.I.I.P. Kepala Perpustakaan UK Petra Surabaya mengatakan bahwa, penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama dengan yang lain sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).

“Hal ini sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia nomer 8 tahun 2016. Termasuk didalamnya hak untuk mengakses fasilitas umum seperti perpustakaan,” kata Dian saat ditemui disela sela seminar, Sabtu, (28/04/18).

“Dan, perpustakaan sangat penting sebab sebagai salah satu fasilitas dalam dunia pendidikan. Untuk itu kami menggelar acara sosialisasi dengan konsep seminar juga pelatihan bahasa isyarat,” tambahnya.

Diterangkan, bahwa, Perpustakaan UK Petra telah memiliki layanan ini sejak tahun 2017, mulai dari memberikan layanan peminjaman buku hingga akses layanan perpustakaan yang dibantu oleh pustakawan yang ada di kampus UK Petra.

“Dengan adanya seminar dan kegiatan pelatihan bahasa isyarat ini maka semakin banyak para disabilitas yang tahu bahwa tidak perlu ragu untuk datang ke perpustakaan,” terang Dian.

Tercatat sekitar 60 orang menghadiri sosialisasi yang terdiri dari siswa SLB Siswa Budhi, dosen UK Petra dan mahasiswa UK Petra.

Dalam seminar tersebut, Gunawan Tanuwidjaja,M.Sc., berbicara mengenai unit layanan disabilitas Perpustakaan UK Petra. Sedangkan Dr. Arina Hayati, S.T., membagikan pengalamannya sebagai disabilitas dalam menempuh pendidikan hingga jenjang Perguruan Tinggi.

Dan yang terakhir, pengenalan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) sebagai unit layanan disabilitas. Pelatihan ini merupakan pengenalan isyarat tak hanya huruf saja akan tetapi juga kalimat.

“Pelatihan ini juga perlu dikenalkan pada mahasiswa agar para mahasiswa semakin menghargai keberadaan para penyandang disabilitas dan tak ragu lagi untuk membantu jika penyandang disabilitas mengalami kesulitan,” tegas Gunawan. (Tls)