Pakis (Pelorod Batik Semi Otomatis) Karya Mahasiswa ITS Dukung Produksi UKM Eks Lokalisasi

Surabaya (wartasas.com) – Bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jatim, mahasiswa Departemen Teknik Mesin Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan inovasi baru sebuah mesin pelorod batik yang diberi nama Pakis (Pelorod Batik Semi Otomatis).

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Teknologi (PKM-T), tim yang terdiri dari Sandi Putra Rachmadi, Laraz Bidari, Duviky Erison dan Hilda Dwi Anggraini menciptakan mesin yang didasari atas hasil produksi batik tulis UKM Jarak Arum yang diketuai oleh Fitria Anggraeni Lestari, yang masih cukup rendah.

Sandi Putra Rachmad Ketua Tim mengatkan bahwa, alat baru inovasi tersebut bertujuan untuk lebih membantu mempercepat produksi batik tulis pada Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan eks lokalisasi Dolly, Surabaya.

“Produktivitas batik tulis yang dihasilkan UKM tersebut masih 20 kain per bulan dengan penghasilan sebulan Rp 5 juta. Terlihat bahwa dalam jangka waktu tiga tahun dengan hasil segitu, produktivitas batik tulis di UKM tersebut terhitung masih rendah,” kata Sandi saat ditemui disela sela tinjauan ke lokasi UKM eks lokalisasi Dolly, Senin, (16/07/18).

“Hasil produksi yang masih rendah tersebut disebabkan oleh proses pembuatan batik yang sebagian besar masih menggunakan cara tradisional, khususnya pada proses pelunturan malam kain atau yang biasa disebut proses pelorodan,” tambahnya.

Sandi juga menjelaskan, cara tradisional yang dipakai dalam proses pelorodan malam pada UKM ini yakni dengan merebus kain satu per satu yang telah dipola dan dikunci dengan malam ke dalam air mendidih yang telah diberi soda abu di dalam kuali. Kemudian diaduk dan diangkat menggunakan kayu beberapa saat, lalu dicelupkan kembali ke dalam kuali.

Selanjutnya menuju proses pengangkatan dan pencelupan kain dilakukan berulang-ulang sampai malam luntur, lalu diangkat kembali menggunakan kayu. Setelah diangkat, kain tersebut diperiksa apabila masih ada malam yang menempel. Bila masih ada, maka dilakukan proses pengerikan malam menggunakan pisau tumpul.

“Hal itu sangat tidak efisien ditinjau dari segi waktu pada proses pelorodan yang membutuhkan waktu tujuh menit setiap kainnya. Di samping itu, sisi keselamatan pekerja dari bahaya percikan air panas saat proses pelorodan malam juga perlu dipertimbangkan,” terang mahasiswa angkatan 2015 tersebut.

Oleh karena itu, Sandi bersama tim berinisiatif membuat Pakis yang dapat mempermudah proses pelorodan malam pada pembuatan kain batik tulis tersebut. Mesin ini dapat memproses maksimal empat kain batik sekaligus dalam sekali kerja.

Mesin pelorod semi otomatis ini juga dilengkapi dengan water heater. Komponen utama mesin pelorod malam kain batik ini adalah motor listrik, gearbox, belt dan pulley, palang penumpu, dan bak penampung air panas.

“Selain itu, mesin ini juga sudah dilengkapi timer yang nantinya mesin dapat mati sendiri ketika proses pelorodan sudah selesai. Hal ini dapat meningkatkan K3 (kesehatan dan keselamatan kerja, red) bagi para pekerja saat proses produksi, dan kami harapkan hal ini dapat meningkatkan hasil produksi UKM tersebut,” pungkasnya.

Mesin yang diproduksi dengan menelan biaya sebesar Rp 8 juta tersebut, kini sudah dihibahkan dan digunakan oleh UKM Jarak Arum di kawasan eks lokalisasi Dolly untuk produksi kain batik tulis mereka. (Tls)