Pakar Psikologi UNAIR : Hukuman Kebiri Kimia Belum Selesaikan Kejahatan Seks

Surabaya (wartasas.com) Ramainya pemberitaan terkait salah satu pelaku kasus kejahatan seksual pada anak di Indonesia yang dijatuhi hukuman kebiri kimia oleh pemerintah sebagai salah satu upaya memberikan efek jera menuai banyak pro dan kontra dari berbagai pihak.

Tidak sedikit pakar yang setuju maupun tidak setuju dengan hukuman kebiri kimia bagi para pelaku kejahatan seksual.

Seperti salah satu pakar Psikologi sekaligus Dosen Fakultas Psikologi (FPSi) Universitas Airlangga (UNAIR), Margaretha, S.Psi., G.Dip.Psych., M.Sc. yang mengatakan bahwa, hukuman penjara bagi pelaku kejahatan seksual dirasa belum bisa memberikan efek jera. Sehingga, tidak sedikit para pelaku kejahatan seksual yang kerap mengulangi tindakan keji tersebut.

“Namun, hukuman kebiri kimia belum cukup menyelesiakan persoalan kejahatan seksual. Perlu dipahami, hukuman maksimum, baik seumur hidup maupun kebiri kimia itu belum cukup menyelesaikan persoalan yang dimiliki oleh pelaku,” kata dosen Psikologi yang akrab disapa Retha saat dijumpai diruangannya di Kampus C Unair, Rabu, (04/09/19).

“Karena, dasar perilaku kejahatan seks itu adalah penyimpangan seks,” sambungnya.

Menurut Retha, pelaku kejahatan seksual tetap berisiko mengulangi perbuatannya.Meski, sudah mengalami hukuman maksimal atau dikebiri kimia. Hal itu sangat mungkin terjadi karena ada ide (pemikiran) yang salah diyakini benar oleh pelaku.

“Istilahnya belum sembuh benar. Kalau hal tersebut tidak dapat diatasi, maka hukuman yang diberikan kepada pelaku ini tidak efektif untuk menyelesaikan masalah,” terangnya.

Sedangkan, dampak obat kimia yang diberikan dalam menurunkan libido (gairah seksual) pelaku hanya berfungsi selama zat itu bekerja. Setelah zat itu tidak lagi dikonsumsi dan cara berpikir pelaku masih sama, bukan tidak mungkin pelaku akan kembali menjadi predator anak lagi.

“Ini masalah besar bagi Indonesia. Kita jangan cuma bikin bom atau menunda bom untuk meledak. Kita perlu menyiapkan langkah-langkah,” tegas Retha.

Hukuman badan seperti kurungan penjara saja dinilai masih kurang untuk mengatasi persoalan kejahatan seks. Seharusnya, ada psikoterapi yang mendalam dan intensif untukmengkoreksi cara berpikir pelaku yang salah.

Pelaku kejahatan seks pada anak atau disebut dengan pedofilia pada dasarnya mempunyai gangguan pemikiran. Persoalan kejahatan seks tidak lagi dapat dianggap hal yang remeh.

“Kalau pelaku kejahatan selesai pidananya, selesai mendapatkan hukuman kebiri kimia, lalu pindah ketempat lain. Kalau masalahnya belum terkoreksi, dia bisa mencari lagi tempat bekerja dengan anak,” ungkapnya.

Indonesia perlu memberikan hukuman maksimal kepada pelaku kejahatan seks. Bisa bentuknya adalah putusan maksimal, hukuman seumur hidup dan juga dengan kebiri kimia.

“Saya setuju capital punishment pada seluruh kejahatan seksual. Termasuk hukuman maksimum, hukuman seumur hidup untuk kejahatan yang sangat parah sekali dan kebiri kimia,” pungkasnya. (Tls)