Indra Sjafri Rela Jauh dari Keluarga Demi Temukan Talenta Garuda Nusantara

Jakarta (wartasas.com) – PSSI ( Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) sedang serius membenahi dan mendongkrak performa tim nasional di semua level agar lebih meningkat prestasinya di kancah dunia, pencarian bakat dan pembinaan talenta muda yang menjadi pondasi dan kerangka Timnas senior pun semakin di tingkatkan demi peningkatan prestasi. Beban yang tidak ringan ini pun di percayakankan kepada Indra Sjafri sebagai pelatih Timnas U-19. Ada dua trofi yang menandai kemonceran pelatih yang dulu pernah bergabung dengan CLUB PSP Padang walaupun belum pernah sekalipun merasakan bergabung dengan Timnas sepak bola Indonesia, trofi tersebut adalah “The HKFA (Hongkong Football Assosiation ) International Youth Invitational Tournament U-17 dan U-19”.
Indra Sjafri mulai berkecimpung di dalam kepelatihan dan bekerja sama dengan PSSI mulai tahun 2007, meskipun sempat putus dan mengarsiteki klub Bali United dan kini Indra Safrie kembali menjadi arsitek Timnas U-19 .

Semangat yang di tularkan Indra Sjafri kepada Garuda Nusantara sangat mempengaruhi performa dan prestasi yang siknifikan, sehingga popularitas sang arsitek otomatis semakin meroket. Tidak banyak yang tahu kalau semua prestasi yang di torehkan tersebut hanya di karenakan rasa sakit hati Indra Sjafri muda yang bergabung dalam tim Pra PON Sumatera Barat tahun 1985.
Pada saat itu terjadi rasa tidak terima di dalam hati ketika Indra Sjafri melihat banyak potensi pemain muda di Nusantara ini bahkan tidak sedukit yang memiliki kemampuan diatas rata-rata namun sangat kecil peluang bahkan hampir mustahil untuk memperkuat Timnas Indonesia dan bermain di kancah internasional.

Pada saat kepelatihan Indra Sjafri yang sangat rajin terjun langsung memantau dan menyeleksi talenta muda di wilayah pelosok-pelosok, kini pensiunan kepala Kantor POS di sebuah kota di Sumatera Barat ini telah mampu menumbuhkan antusiasme anak-anak Indonesia untuk lebih giat berlatih, imbasnya SSB pun tumbuh subur di pelosok-seluruh penjuru Nusantara.
Pendidikan kepelatihan lisensi “A” lulus dia tempuh, sebagai bekal perang gerilya ke daerah-daerah terpencil di seluruh penjuru Indonesi. Keluarganya sangat mendukung karier kepelatihannya, bahkan anak sulung Indra Sjafri lebih bangga sang ayah menjadi pelatih Timnas Sepak bola Indonesia dari pada menjadi seorang kepala Kantor POS.

Indra Sjafri, pria kelahiran Painan, Sumatera Barat , 2 Februari 1963 silam, bersusah payah mengunjungi tak kurang dari 43 daerah demi mencari bibit terbaik sepak bola Indonesia. Konsekwensinya waktu untuk keluarga yang minim sejak menangani Timnas U-19.
Ada tiga misi Indra Sjafri dengan mendatangi seluruh pelosok tanah air yaitu, menyeleksi langsung, membangkitkan gairah sepak bola di daerah-daerah dan menularkan ilmu kepelatihannya.
Hasilnya adalah Juara Piala AFF U-19 2013 dan kualifikasi Piala AFC, adalah prestasi sesungguhnya Indonesia muda tang di arsiteki Indra Sjafri. (Nr)