Mahasiswa UKWMS Ubah Barang Bekas Jadi Hal Bermanfaat

Surabaya (wartasas.com) – Dua tim mahasiswa dan dosen dari Fakultas Teknik (FT) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) berhasil menciptakan dua buah rangkaian Teknologi Tepat Guna (TTG) dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan ilmu yang mereka dalami di Jurusan Teknik Elektro FT UKWMS.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Maria Angela Kartika dengan karyanya Otomasi Sistem Hidroponik NFT dan Fandri Christanto dengan Mesin Pengering Otomatis Hemat Energi yang baru tanggal 12 Agustus 2017 kemarin meraih gelar juara 3 dan juara harapan pertama dalam Lomba Pengolahan Hasil Perikanan dan Teknologi Tepat Guna yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Maria Angela Kartika ketika dijumpai dalam peragaan karyanya mengatakan, awalnya ingin menciptakan suatu alat yang bisa dimanfaatkan oleh orang tuanya. Selain itu juga bermula dari keprihatinan atas kurangnya lahan yang dapat digunakan untuk bercocok tanam di Surabaya.

“Berdasarkan sistem berlahan menggunakan Hidroponik, kelebihan dari mesin inovasinya adalah mampu diaplikasikan dengan lahan terbatas dan juga lebih hemat biaya listrik karena ada periode pompa. Sistem aliran air menggunakan dua tandon, dari bawah dipompa ke atas, sehingga ketika tandon atas sudah penuh secara otomatis pompa akan mati dan sistem dapat bekerja tanpa menarik daya listrik.” Kata Angela yang menyelesaikan karyanya di bawah bimbingan Yuliati, S.Si., MT dan Drs. Peter R. Angka M.Kom tersebut.

“Kira-kira yang dihemat dalam konsumsi daya adalah 37,77 Kwh atau bila dirupiahkan dengan asumsi batas daya 1300VA kurang lebih adalah 55.000 Rupiah. Mesin ini juga mampu untuk menyeimbangkan kadar nutrisi yang dibutuhkan tanaman dengan cara mengatur alat menggunakan sensor TDS (Total Dissolved Solid) sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman,” tambahnya.

Keunikan lain dari karya Angela adalah ia berhasil memanfaatkan beberapa barang bekas untuk membangun sistem tersebut. Tandon air yang dipergunakan adalah gentong plastik bekas bahan kue, selain itu rangka besi penunjang alat didapatkan dari beberapa tempat loak. Sebagai rangka ‘meja’ tanaman hidroponik sayuran berdaun yang ia tanam, Angela menggunakan beberapa batangan galvalum yang ia rakit sendiri.

“Belum pernah ada alat untuk mengendalikan sistem hidroponik yang otomatis menutrisi sayuran yang ditanam, sekaligus mengendalikan kadar nutrisi dalam air yang dipergunakan sesuai kebutuhan yang ditetapkan,” terang Andrew Joewono ST., MT dosen pembimbing Angela.

Sedangkan Fandri terinspirasi dari usaha kecil pabrik krupuk yang dijalankan oleh keluarganya. Berkat bimbingan Andrew Joewono ST., MT dan Ir. Rasional Sitepu, M.Eng,  Fandri berinovasi menghasilkan sebuah mesin pengering yang kadar kekeringannya bisa diatur, hemat energi karena sistem pemanasan angin panas putar tertutup dan bahan bakar gas LPG dengan kapasitas maksimum skala industri.

“Tidak hanya krupuk, tapi bisa juga untuk olahan makanan lainnya maupun bahan baku, seperti kopi, cengkeh, dan ikan. Mesin pengering serbaguna dirancang untuk membantu pengusaha kerupuk yang membutuhkan waktu seharian dalam proses mengeringkan kerupuk,” ucap  Fandri.

Metode pengeringan manual juga memiliki kelemahan yaitu cuaca tidak selalu mendukung dan juga memakan lahan cukup besar. Mesin karya Fandri ini proses pengeringannya hanya memakan waktu yang berkisar kurang lebih 90 menit, selain itu akan mati secara otomatis ketika kerupuk kering. Otomatisasi itu berkat sensor yang dipergunakan yakni DHT 22, yang mampu membaca nilai kelembaban dan suhu pada alat. Agar lebih efisien, Fandri menggunakan sistem kipas di bagian dalam alat agar suhu panas dapat berputar dan tersebar lebih merata.

Kedua karya TTG tersebut telah diakui oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya serta akan mewakili Kota Pahlawan di Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke XIX di Palu pada  bulan Oktober yang akan datang. (Tls)