Mahasiswa UKWMS Ciptakan “Fishkol” Tablet Tepung Ikan Tongkol

Surabaya (wartasas.com) – Tingginya angka konsumsi ikan oleh masyarakat Indonesia meningkat setiap tahunnya. Tahun 2017 angka konsumsi ikan per kapita sebesar 47,12 kg; sedangkan tahun 2018 mencapai 50 kg. Tahun 2019 pun angka konsumsi ikan diharapkan terus meningkat.

Salah satu ikan yang kerap diolah untuk menjadi lauk pauk, dan menjadi kegemaran masyarakat adalah ikan tongkol (Euthynnus affinis). Selain mudah didapat baik di pasar atau langsung dari nelayan, ikan tongkol kaya akan protein, asam lemak omega-3, fosfor, kalium, zat besi dan kandungan gizi baik lainnya yang bermanfaat untuk tubuh.

Melihat potensi pemanfaatan ikan tongkol tersebut membuat tiga mahasiswa alumnus Program Studi Teknologi Pangan dan Gizi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FTP UKWMS) melakukan inovasi baru dengan bahan utama ikan tongkol.

Dibawah bimbingan Ir. Adrianus Rulianto Utomo, MP., IPM ketiga mahasiswa UKWMS yaitu Sheila Chang, S.T.P., Yashinta Wisnata, S.T.P., dan Theresia Irene, S.T.P. menciptakan inovasi baru yang diberi nama Fishkol, yakni tablet tepung ikan tongkol

Sheila Chang mengatakan bahwa, mengapa memilih ikan tonggol sebagai dasar inovasi karena dilihat dari ikannya, bagian yang bisa dimanfaatkan itu banyak, tidak ada sisik sehingga bagian yang terbuang sedikit dan ikan tongkol punya cita rasa serta aroma yang lebih kuat dibanding ikan lainnya.

“Dalam melakukan riset ini untuk mencari formulasi yang tepat tentu tidak mudah. Kami membutuhkan waktu enam bulan untuk uji coba,” kata Sheila saat dijumpai dalam kesempatan uji coba pembuatan Fishkol di Kampus UKWMS Dinoyo, Rabu, (29/05/19).

“Fishkol bisa difungsikan sebagai untuk bumbu masakan atau bahan tambahan pangan sebagai kaldu penyedap rasa,” tambahnya.

Proses pembuatannya terbagi dalam dua tahap besar yaitu penepungan ikan tongkol dan pembuatan tepung ikan tablet. Untuk sekali produksi mereka menggunakan enam kilo gram ikan tongkol segar, yang kemudian dipisahkan dari organ dalam dan mata, dicuci bersih, direbus dalam panci presto, disuwir, dikeringkan, lalu dihancurkan dan diayak hingga dihasilkan tepung ikan tongkol. Agar rasa yang dihasilkan mudah diterima masyarakat, mereka menambahkan gula, garam dan merica, serta ditmabhakn maltodekstrin sebagai pengikat komponen bahan. Proses pengeringan ini pula turut menambah umur simpan ikan tongkol.

Masuk pada tahap selanjutnya yakni pembuatan tablet tepung ikan tongkol itu sendiri. Pada tahap ini dimulai proses granulasi, dengan menambahkan air sampai homogen. Setelah itu kembali diayak, dikeringkan di oven dan diayak kembali, ditambahkan pelicin yakni magnesium stearat dan dicetak dengan mesin pencetak tablet.

Untuk menghasilkan bentuk tablet, ketiganya berkolaborasi dengan Laboratorium Formulasi dan Teknologi Sediaan Solida Fakultas Farmasi UKWMS. Tablet merupakan sediaan padat yang dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata atau cembung. Dari hasil mencetak, masing-masing tablet akan memiliki berat 300 mg sehingga memudahkan untuk dibawa maupun disimpan, karena dengan bentuk yang padat maka kontak dengan udara juga minim.

Penggunaanya pun mudah, untuk membuat sup dengan air 500 ml dibutuhkan 12 tablet Fishkol. Jika untuk menumis, pencampuran tablet Fishkol bisa sesuai selera apakah ingin cita rasa ikan yang kuat atau tidak.

“Fishkol ini bisa dikonsumsi untuk anak-anak sampai orang tua, karena kandungan gizinya baik untuk tubuh dan tidak menggunakan bahan pengawet apapun sehingga aman,” pungkasnya. (Tls)