Mahasiswa Ubaya Ciptakan Palang Kereta Api Berdaya Angin

Surabaya (wartasas.com) – Tingginya angka kecelakaan yang diakibatkan lalainya pengemudi kendaraan maupun penjaga lintasan kereta api atau tidak adanya palang kereta api, membuat mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) tergerak untuk melakukan terobosan demi keselamatan banyak masyarakat.

Menurut Data Investigasi Kecelakaan Perkeretaapian Tahun 2010 – Oktober 2016, tercatat sebanyak 35 peristiwa kecelakaan kereta api yang merenggut 55 korban jiwa dan 240 korban luka-luka (Sumber : Database KNKT, 31 Oktober 2016).

Untuk itu, tiga mahasiswa Program Studi Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya merancang Automatic Railway Gate System (AuraGS) yaitu palang pintu kereta api otomatis yang menggunakan aki sebagai sumber daya.

Dalam kesempatan uji coba Prototype AuraGS, Selasa, 10 Januari 2017 di Lab. Desain Produk, Gedung TG lantai 1 Kampus Tenggilis Universitas Surabaya, ketiga mahasiswa tersebut, Anthoni, Andreas Wijaya dan Yovita Sugionoputri mencoba penunjukkan system kerja AuraGS dihadapan para media.

Seperti yang disampaikan dosen pembimbing Sunardi Tjandra, S.T., M.T, bahwa ketiga mahasiswa tersebut mengembangkan palang pintu otomatis yang sudah ada, bedanya AuraGS menggunakan aki sebagai sumber daya energi.

“Hal ini dilakukan untuk mengakomodir daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki palang pintu kereta serta memiliki keterbatasan sumber daya listrik. Keunikan lainnya adalah aki ini dapat melakukan self-charging sehingga mudah dalam perawatannya dan lebih hemat energi.” Ucap Tjandra saat uji coba, Selasa, (10/1/17).

“Sistem self-charging ini memanfaatkan baling-baling yang bergerak karena energi kinetik yang dihasilkan oleh angin yang berasal dari pergerakan kereta api saat melintas pada daerah palang pintu perlintasan kereta api. Putaran baling-baling akan dikonversi menjadi energi listrik melalui converter yang selanjutnya dialirkan menuju aki untuk mengisi daya aki,” tambahnya.

Dikesempatan yang sama Anthoni, mahasiswa semester 6  juga menjelaskan, bahwa AuraGS menggunakan dua macam sensor yaitu sensor mekanik sebagai sensor utama dan photo sensor sebagai sensor pembantu.

Photo sensor digunakan sebagai sensor pengganti, dimana photo sensor bekerja saat terjadi kegagalan sistem pada sensor mekanik. Sebelumnya, tim mengadakan survey dan juga konsultasi dengan PT. Kereta Api Indonesia tentang standar-standar keamanan yang ada,” kata Anthoni.

Prototype palang AuraGS di buat 1:2 dengan aslinya, palang kereta asli memiliki panjang 4 meter, sehingga palang AuraGS sepanjang 2 meter dan tingginya 1 meter. Untuk baling-baling, dibuat seperti ukuran aslinya yaitu tingginya 1,8 meter. Tim memanfaatkan fan indoor AC bekas yang dirakit dengan baja untuk menjadi baling-baling. Nantinya, baling-baling akan diletakkan 1,2 meter dari rel kereta.

“Daya aki tidak akan habis karena daya yang terpakai untuk membuka tutup palang akan segera digantikan dengan daya yang baru,” pungkas  Anthoni (Tls)

Add a Comment