Mahasiswa Merupakan Motor Penggerak Gerakan Anti Korupsi di Masyarakat

Surabaya (wartasas.com) – Integritas sesorang tidak bisa diukur melalui sistem yang ada. Akan tetapi, segala bentuk tindakan korupsi seperti penyuapan dan pemerasan banyak diakibatkan karena seorang pejabat kurang memiliki komitmen terhadap integritas.

Hal tersebut disampaikan dalam kesempatan acara “Rapat Senat Terbuka dan Orasi Ilmiah serta Penandatanganan Pakta Integritas Anti Korupsi” antara Unusa dengan KPK RI yang dilaksanakan pada Sabtu, 05 Mei 2018 di Kantor PDAM Surabaya.

Tampak turut hadir dalam acara, Ketua KPK RI Agus Rahardjo, Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo, Ketua Yarsis Prof. M. Nuh didampingi Rektor Unusa Prof. Dr. Ir Achmad Jazidie M. Eng.

Dalam Orasi yang mengambil tema “Pencegahan Korupsi dengan Membentuk Generasi Anti Korupsi”, Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, bahwa, korupsi memiliki kerugian atau dampak yang luar biasa bagi bangsa dan negara.

“Cara memberantasnya yakni melalui perbaikan sistem, penindakan, pencegahan dan mengikut sertakan peran masyarakat dengan cara memberikan edukasi setiap waktu,” ucap Agus dalam rapat senat terbuka lustrum ke-1 Unusa dengan tema Menyiapkan Generasi Rahmatan Lil Alamin: Perlawanan Terhadap Korupsi, Sabtu, (05/05/18).

“Kalau rakyat dilibatkan dalam pengambilan keputusan, maka rakyat bisa ikut mengawal dan mengetahui dampak dari diterapkannya kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah,” tambahnya.

Agus Rahardjo juga menegaskan bahwa, korupsi yang terjadi di negara ini sudah berlangsung sejak lama. Untuk itu, pendidikan anti korupsi harus bisa ditanamkan kepada proses pendidikan dan pelajaran di negara ini. Pembangunan karakter, juga harus dilakukan sedini mungkin.

Dikesempatan yang sama, Rektor Unusa Prof. Dr. Ir Achmad Jazidie mengungkapkan, bahwa korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan berdampak buruk luar biasa pada hampir seluruh sendi kehidupan.

“Korupsi telah menghancurkan sistem perekonomian, sistem demokrasi, sistem politik, sistem hukum, sistem pemerintahan, dan tatanan sosial kemasyarakatan di negeri ini. Untuk itu, keterlibatan mahasiswa dalam upaya pemberantasan korupsi di universitas dibutuhkan, dengan diberikannya Pendidikan anti korupsi,” terang Prof. Jazidie.

“Pendidikan anti korupsi bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang cukup luas  tentang bahaya korupsi, penanganannya, penindakannya dengan cara menanamkan nilai nilai anti korupsi,” imbuhnya.

Diharapkan, mahasiswa dapat berperan sebagai agen perubahan dan motor penggerak gerakan anti korupsi di masyarakat. Untuk dapat berperan aktif mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya.

“Di Unusa, upaya pembekalan mahasiswa telah ditempuh dengan berbagai cara, antara lain, kegiatan sosialisasi, kampanye anti-korupsi, seminar atau perkuliahan, dan salah satunya menghadirkan Ketua KPK RI, Agus Rahardjo,” urainya. (Tls)