Komunitas Prematur Indonesia Ajak Para Orangtua Lebih Peduli Terhadap Bayi Prematur

Surabaya (wartasas.com) – Setiap tahun diperkirakan 15 juta bayi terlahir premature dan lebih dari 1 juta bayi meninggal akibat komplikasi dari kelahiran prematur.

Dalam rangka menekan tingginya angka lahir bayi premature di Indonesia akibat kurang pahamnya penanganan bagaimana merawat dan mendeteksi kesehatan bayi dari lahir hingga besar sekaligus persiapan kehamilan pasca prematuritas, Komunitas Premature Indonesia mengadakan sosialisasi dan edukasi melalui Seminar Awam.

Seminar Awam bertemakan “Prematuritas dan Apa yang Dihadapi Setelahnya” pada Minggu, 22 April 2018 di RSIA Kendangsari Surabaya, menghadirkan narasumber dr. Agung Zentyo Wibowo, dr. Diana Amilia Susilo, dr. Muhammad Ilham Aldika Akbar dan dr Rozalina Loebis.

dr. Agung Zentyo Wibowo selaku founder Komunitas Premature Indonesia menyampaikan bahwa, tujuan diadakannya seminar awam ini adalah memberikan edukasi terhadap para ayah dan bunda terkait bagaimana menangani dan merawat serta mendeteksi kesehatan bayi dari lahir hingga besar sekaligus persiapan kehamilan pasca prematuritas.

“Kami sebagai komunitas Premature Indonesia ingin mendorong setiap orang tua menjalankan skrining wajib yaitu skrining ROP untuk penglihatan, skrining OEA dan BERA untuk pendengaran, pemeriksaan Echo jantung, USG kepala juga MRI bila diperlukan,” kata dr Agung saat dijumpai usai member paparan dalam Seminar Awam, Minggu, (22/04/18).

“Karena, masalah pada bayi premature bukan hanya masalah menjaga suhu tubuh dan berat badan saja. Sehingga, kami sangat tidak setuju dengan inisiatif gerakan incubator rumahan karena akan menjauhkan pasien untuk mendapatkan perawatan lengkap dan maksimal,” tambahnya.

Dalam kesempatan seminar awam tersebut, Dokter Spesialis Mata, dr Rozalina Loebis disamping memberikan sosialisasi dan edukasi kepada para orangtua juga memberikan contoh cara memeriksa kondisi mata anak dengan kelahiran premature untuk deteksi awal mata juling, usia diatas 6 bulan.

“Kami berharap, melalui seminar awam ini para orang yang memiliki bayi premature semakin memahami dan mengerti bagaimana cara merawat dan mendeteksi bayi premature. Sehingga, kondisi si bayi semakin terjaga,” terang dr Agung.

dr. Diana Amilia Susilo dalam kesempatan seminar awam menyampaikan pemaparan tentang cara memberikan perawatan bayi premature di rumah. Sedangkan, dr. Muhammad Ilham Aldika menyampaikan tenatng persiapan kelahiran pasca prematuritas.

Neneng Fitriyah peserta seminar awam asal Sidoarjo yang memiliki seorang putri bernama Atafariq Hazmi (5bulan) merasa bersyukur  dengan adanya sosialisasi dan edukasi yang disampaikan para dokter terkait cara merawat bayi premature dengan baik dan benar.

“Alhamdulilah. Akhirnya saya dan suami semakin memahami dan mengerti harus bagaimana merawat dan mendeteksi bayi prematur agar mendapatkan perhatian dan perawatan yang lebih  baik,” papar Fitri dengan senyum lega. (Tls)