ITS Rancang Alat Pendeteksi Dini Penyakit TBC

Surabaya (wartasas.com) – Tingginya angka kematian hingga mencapai 1,7 juta jiwa pertahun akibat penyakit tuberculosis yang lebih dikenal dengan sebutan TBC diakibatkan karena tidak akuratnya informasi tingkat keparahan penderita sehingga penanganan menjadi terlambat.

Melihat kondisi tersebut, empat dosen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang sebuah inovasi alat yang diberi nama yakni alat yang dapat menghitung jumlah bakteri tuberculosis secara akurat.

Keempat dosen perancang TB-Analyzer tersebut adalah Dr I Ketut Eddy Purnama ST MT, Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng dari Departemen Manajemen Bisnis, Dr Supeno Mardi Susiki Nugroho ST MT dan Arief Kurniawan ST MT dari Departemen Teknik Komputer.

kesempatan press realese Dr I Ketut Eddy Purnama ST MT, salah satu dosen perancang TB-Analyzer, menyampaikan bahwa, World Health Organization (WHO) menyatakan tuberculosis (TBC) merupakan salah satu penyakit penyumbang kematian tertinggi di dunia.

“Selama ini diagnosa tuberculosis masih dilaksanakan secara manual. Dokter dan perawat masih menggunakan mata dengan menghitung adanya bakteri tahan asam (BTA) pada dahak penderita yang diletakkan di atas citra mikroskopik,” kata  Dr I Ketut dalam press realese, Jumat, (12/01/18).

“Penghitungan ini, seringkali tidak akurat. Hal ini dikarenakan area yang diperiksa sangat luas sehingga tidak memungkinkan untuk menghitung jumlah bakteri secara teliti. Bayangkan ada 100 area, lalu kita memindahkannya satu-satu dengan tangan. Pasti nanti akan ada yang terlewat entah karena lalai atau lelah,” tambahnya.

Kepala Laboratorium Sinyal Digital ITS ini menambahkan, oleh karena itu, berangkat dari masalah tersebut, para dosen melakukan penelitian. Selama lebih dari tiga tahun, Ketut dan tim melakukan penelitian sampai akhirnya dihasilkan alat penghitung bakteri tuberculosis yang diberi nama TBAnalyzer: Smart System to Count Tubercolosis Bacterial on a Sputum Smear Automatically.

“Alat ini merupakan sistem terpadu antara aplikasi perangkat keras dan perangkat lunak untuk analisis citra mikroskopik. Dengan alat ini, tenaga medis mampu memotong waktu diagnosis selama berjam-jam,” terang Dr. I Ketut.

Diterangkan, bagian perangkat kerasnya terdiri dari komputer jinjing yang terhubung ke mikroskop digital. Sementara bagian aplikasi mampu menginstruksikan untuk menggerakkan motor dan mendapatkan fokus pada bakteri agar mendapatkan puluhan gambar yang tidak tumpang tindih.

“Sedangkan, cara kerja alat ini diawali dengan penderita melakukan X-Ray untuk menentukan apa pasien terjangkit TBC atau tidak. Ketika didiagnosa menderita TBC, dahak dari penderita diambil di atas preparat dahak, dikeringkan lalu dibakar. Tujuan pembakaran ini untuk melelehkan bakteri yang berbentuk batang dengan lapisan lilin,” paparnya.

Ketika pembakaran selesai, preparat diberi warna dengan menggunakan Ziehl Neelsen. Setelah itu, preparat didinginkan dan diletakkan kembali di atas mikroskop digital. Nantinya, bakteri akan secara otomatis muncul di layar komputer.

“Namun, alat ini masih dalam tahap penyempurnaan. Kita masih akan menyempurnakan bagian mekaniknya terlebih dahulu agar bias lebih sempurna,” urainya. (Tls)