FF UNAIR Dampingi Masyarakat Lamongan Olah Tanaman Obat

Surabaya (wartasas.com) – Guna mempercepat hilirisasi tanaman obat tradisional, Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan pendampingan untuk ibu rumah tangga dan industri kecil menengah Kabupaten Lamongan dalam mengolah tanaman obat sebagai bentuk produk yang memiliki nilai jual.

Kegiatan temu praktisi usaha kecil, menengah obat tradisional pada Sabtu, 13 Juli 2918 Aula Lantai 1, Fakultas Farmasi Kampus C UNAIR dihadiri peserta dari Kabupaten Lamongan yang terletak di desa Candisari dan Canditunggal Lamongan, dan kemudian bertemu dengan Dinas Kesehatan Gersik, Lamongan, Surabaya, Sidoarjo Jawa Timur, Bappeda Lamongan serta BPOM Surabaya.

Dr. Idha Kusumawati, S.Si., Apt., M.Si selaku ketua panitia menyampaikan bahwa, acara tersebut bertujuan untuk meningkat perekonomian masyarakat dan mengimplementasikan hasil riset di Perguruan Tinggi melalui program pengabdian masyarakat.

“Dengan adanya forum ini diharapkan dapat membantu memperlancar izin dari BPOM serta menghasilkan persepsi yang sama dalam melakukan pendaftaran produk bahan olahan daun katuk dan daun serai sebagai pangan atau obat tradisional,” kata Dr. Idha dalam sambutannya, Sabtu, (13/07/19).

“Mengingat produk unggulan Kabupaten Lamongan saat ini adalah daun katuk dan daun serai,” tambahnya.

Daun katuk banyak tumbuh dan diproduksi oleh masyarakat Canditunggal sebagai bahan obat tradisional yang kemudian diolah menjadi produk teh. Sedangkan daun serai banyak ditemui di desa Candisari yang diolah menjadi minyak dan dapat dimanfaatkan sebagai obat kumur.

“Setelah forum ini selesai kami akan terjun lagi ke desa untuk melakukan pendampingan produk tersebut. Mulai dari pengolahan, pendaftaran BPOM hingga kemasan,” terangnya.

Ditempat yang sama, Sofia Nur Hayati, Sp., M.Si selaku Sekretaris Bappeda Lamongan mengungkapkan adanya inisiatif dan program pendampingan dari UNAIR mendapat respon baik dari masyarakat menyangkut munculnya potensi agrobisnis tanaman obat yang selama ini ditekuni. Harapannya dengan adaya kerjasama ini dapat menggalakkan kompetensi antar desa untuk bisa menjadi lebih baik lagi.

“Paling tidak masyarakat nantinya paham bahwa masing-masing desa mempunyai keunikan dan budidaya tanmana obat masing-masing,” papar Sofia.

Adanya tanaman obat di pekarangan akan mempermudah keterjangkauan kebutuhan masyarakat menjadi terpenuhi. Perlu diketahui tanaman obat seperti daun serai dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjangkitnya penyakit demam berdarah dan daun katuk dapat dimanfaatkan untuk menangani permasalahan stunting yang seringkali terjadi di masyarakat.

“jika produk ini sudah dikenal dan dipasarkan, kedepannya kami akan menyediakan lahan khusus untuk tanaman obat di masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Nur Hidayah S.Si., Apt selaku Staff Sertifikasi BPOM Surabaya mengharapkan adanya kerjasama untuk mengawal pengawasan post market. Produk-produk yang akan didaftarkan diharpkan mempunyai kehiginisan yang mumpuni sesuai standart yang berlaku. Hal itu bertujuan untuk melindungi masyarakat makanan dan minuman yang sudah diedarkan. Fakta mengungkapkan bahwa kehiginisan yg selama ini terjadi di lapangan masih kurang. (Un/Tls)