Bersama Kak Nitnit, Ubaya Hibur Anak Anak Dengan Dongeng

Surabaya (wartasas.com) – Sebanyak 80 anak dari Kelompok Bermain Sanggar Kreativitas dan Taman Penitipan Anak Rumah Ceria mendapatkan hiburan dan cerita dongeng dari Kak Nitnit sang pendongeng.

Divisi Pendidikan Anak Pusat Konsultasi dan Layanan Psikologi (PKLP) Universitas Surabaya menggelar aksi social dengan mengadakan dongeng yang bertemakan Kebhinekaan.

Acara dongeng bersama anak anak yang digelar Jumat, 13 Januari 2017 di Fakultas Psikologi Kampus Tenggilis Universitas Surabaya, menghadirkan Kak NitNit (Hypnotic Storytelling, Pendongeng Nasional, Terapi Mendongeng, Hipnoterapi Anak, Konsultasi Anak, Konsultasi Parenting).

Kepala Sekolah Kelompok Bermain Sanggar Kreativitas Ubaya, Shinta Oktaviani, S.Psi. menjelaskan, bahwa dongeng yang digelar sengaja diberi tema Kebhinekaan untuk memperkenalkan dan memasukkan nilai-nilai keberagaman. Selain itu acara ini bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak sejak dini mengenai nilai-nilai toleransi, tenggang rasa dan saling menghormati dan menghargai perbedaan dan keragaman tersebut.

“Anak-anak yang hadir di acara dongeng rata rata berusia 2-6 tahun. Dongeng merupakan cara yang menyenangkan dan dapat sekaligus mengedukasi anak-anak.” Kata Shinta ketika dijumpai di Ubaya, Jumat, (13/1/17).

”Kebhinekaan dipilih mengingat isu yang terjadi di negara kita belakangan ini adalah mengenai perbedaan SARA. Dan, anak-anak harus diedukasi sejak dini bahwa perbedaan itu bukanlah untuk memecah belah tetapi justru sebagai kekuatan,” tambahnya.

Kak Nitnit yang memiliki nama lengkap Kartikanita Widyasari, S.Psi, CH. bercerita dengan menggunakan alat peraga berupa boneka dan gambar. Kak Nitnit menceritakan tentang kehidupan anak-anak sekolah yang berbeda-beda dan saling menghormati. Sehingga, pesan yang akan disampaikan adalah bahwa semua orang bisa berteman dengan siapa saja.

“Bercerita dengan anak-anak akan lebih mudah bila menceritakan hal-hal yang mudah dimengerti, dalam tema kebhinekaan ini saya akan lebih menonjolkan pada perbedaan ciri-ciri fisik seperti perbedaam warna kulit, bentuk rambut, dan memberikan contohnya melalui gambar maupun dari anak-anak yang hadir saat itu,” jelas Kak Nitnit.

Dalam acara tersebut, anak-anak juga diajak untuk berkreasi. Anak anak diberi kesempatan mengkreasikan diri dengan menggunakan roti tawar sebagai medianya.

Peserta dapat mempersiapkan bahan pendukung lainnya untuk menghias seperti meises, trimit, mentega, selai, dll. Anak dan orang tua akan bersama-sama berkreasi selama 45 menit dan akan dipilih 10 terbaik.

“Kegiatan kreasi ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara anak dan orang tua dan juga meningkatkan kreatifitas anak-anak,” pungkas Shinta. (Tls)

Add a Comment