1 Dari 7 Penerima Nobel Ekonomi Dunia Kunjungi Ubaya

Surabaya (wartasas.com) – Satu dari tujuh penerima Nobel Ekonomi (Nobel Laureate in Economics) dunia pada tahun 2007, mengunjungi Indonesia dalam rangka ASEAN “Bridges – Dialogues Towards a Culture of Peace” ke-6.

Dan, Universitas Surabaya mendapatkan kehormatan besar menjadi tuan rumah bagi Prof. Eric Stark Maskin, salah satu dari tujuh penerima Nobel Ekonomi (Nobel Laureate in Economics).

Acara dialog yang digelar dalam rangka ASEAN “Bridges – Dialogues Towards a Culture of Peace” ke-6, di Universitas Surabaya, Minggu, 15 Januari 2017, menghadirkan langsung Prof. Eric Stark Maskinn sebagai keynote speech yang difasilitasi oleh International Peace Foundation yang berpusat di Wina.

Turut mendampingi Prof. Eric Stark Maskinn dalam presscon, Uwe Morawetz (Chairman of International Peace Foundation), Nemuel Daniel Pah, Ph.D. (Pelaksana Harian Rektor), Sujoko Efferin, Ph.D. (Direktur Kerjasama Kelembagaan).

Uwe Morawetz Chairman of International Peace Foundation, dalam presscon mengatakan, Prof. Eric Stark Maskin, ekonom asal Amerika yang berhasil memenangkan nobel ekonomi tahun 2007, akan mengisi dialog yang membahas pasar global yang gagal mengurangi ketimpangan.

“Masih banyak ketidak adilan sosial ekonomi didunia. Dan, juga kegagalan dalam mengatasi kendala pasar global ekonomi, ketidaksetaraan yang memperbesar kesenjangan antara kaya dan  miskin. Dan itu yang akan dibahas oleh Prof. Eric Stark Maskin.” Kata Uwe dalam presscon, Minggu, (15/1/17).

Prof Eric Stark Maskin, peraih Nobel Laureate in Economics menyebutkan, pendapatan yang akan datang (era globalisasi) ini hanya berpihak pada orang-orang yang memiliki skill. Dan bagi seseorang yang tidak memiliki skill (unskill) akan semakin di tinggalkan oleh perusahaan Internasional.

“Dalam mengatasi ketimpangan pasar global tersebut, pemerintah harus bertanggung jawab untuk menyediakan pendidikan dan lapangan kerja baginya unskilled people,” tutur Eric.

Prof. Eric Stark Maskin saat ini adalah professor di Massachusetts Intitute of Technology, Boston, Amerika Serikat yang telah bekerja di berbagai bidang teori ekonomi, seperti teori permainan (game theory), ekonomi insentif dan teori kontrak.

Dikesempatan yang sama, Plt Rektor Ubaya Nemuel Daniel Pah menambahkan, Ubaya juga berkomitmen di bidang kemanusiaan dan perdamaian dunia sesuai dengan program yang sedang dilakukan para peraih nobel tersebut. Selain itu, reputasi akademik yang diakui secara internasional.

“Ubaya dipilih oleh International Peace Foundation (IPF) sebagai salah satu dan kali pertama kampus di Kota Surabaya yang menjadi tuan rumah karena termasuk universitas yang kredibel dan telah sangat berhasil dalam membina kemitraan dengan berbagai pihak nasional dan internasional,” terang Daniel.

Diharapkan, melalui kegiatan dialog tersebut, muncul kesadaran dan komitmen pemerintah, pengusaha, tokoh masyarakat dan semua pihak secara kolektif untuk aktif dalam budidaya perdamaian dunia melalui kegiatan ekonomi positif dan tidak  mementingkan diri sendiri. (Tls)

Add a Comment