Sambut Hari Buruh sedunia, Pakde Karwo Ajak Ribuan Buruh Berdiskusi Santai

Surabaya (wartasas.com) – Ribuan buruh dari berbagai elemen seperti Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Serikat Pekerja NAsional (SPN), dan Aliansi Perjuangan Buruh Jawa Timur (APBJ), tumpah ruah di sepanjang jalan Tugu Pahlawan Surabaya untuk menyambut Hari Buruh sedunia (May Day).

Namun, guna menciptakan kedamaian dan kebersamaan menyambut Hari Buruh sedunia, Gubernur Jawa Timur DR. H. Soekarwo mengajak seluruh buruh dan Forkopimda Jatim duduk bersama dan berdiskusi.

Tampak hadir mengikuti diskusi bersama, Kapolda Jatim Irjen Pol. Drs. Machfud Arifin, SH, Pangdam V/Brawijaya, Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Jatim, dan ribuan buruh, termasuk Ketua KSPSI Jatim dan Ketua SPMI Jatim.

Dalam kesempatan tersebut, Pakde Karwo menyampaikan beberapa pesan terkait peringatan May Day. Tentang permintaan peninjauan ulang Peraturan Pemerintah (PP) 78/2015 yang menciptakan disparitas antara daerah dan terkait Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) agar ditinjau ulang.

“Pemprov Jatim sudah mengirimkan surat terkait persoalan disparitas pada 23 Januari 2018 lalu kepada Menteri Tenaga Kerja RI melalui Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial (PHI) dan Jaminan Sosial (Jamsos), Kemenaker RI. Namun, ternyata ditolak semuanya. Jadi saya sudah mengusulkan dan ditolak tanggal 23 Pebruari 2018,” kata Pakde Karwo sapaan akrab gubernur Jatim dalam diskusi santai menyambut Hari Buruh sedunia, Selasa, (01/05/18).

Meski demikian, Pakde Karwo bersama Forkopimda Jatim akan membuat diskresi meskipun itu dilarang. Dengan diskresi tersebut, Kabupaten Pacitan dengan Kota Surabaya dan sekitarnya tidak terlalu besar selisihnya seperti saat ini yang mencapai Rp. 2 juta. Menurutnya, persoalan disparitas dinilai tidak bagus.

Pakde Karwo juga meminta kepada ribuan buruh yang hadir agar bisa menjadi model di seluruh Indonesia dalam memperingati hari buruh, yakni peringatan yang damai, tidak melakukan kekerasan.

“Jadikanlah perjuangan itu menjadi hal yang ada etika, moral dan sopan santun. Khas Jawa Timur. Yaitu mereka protes ditampung, selesai ditampung lalu dicarikan solusi, dirumuskan. Kalau itu sudah dilakukan, tapi anarki malah tidak menarik buat masyarakat. Nanti buruh justru tidak disukai oleh masyarakat,” pesan Pakde Karwo.

Senada dengan Pakde Karwo, Kapolda Jatim Irjen Pol. Drs. Machfud Arifin, SH menyampaikan harapannya. Dirinya merasa bangga terhadap aksi buruh Jatim yang telah berjalan dengan tertib, aman dan nyaman dalam mempringati May Day di Jatim. Sehingga, aksi tersebut bisa dijadikan contoh atau model peringatan May Day di seluruh Indonesia. (Tls)