TNI AL Tangkap Nelayan Asing Diperairan Laut Seram

Maluku (wartasas) – Menanggapi laporan masyarakat Seram Bagian Barat (SBB) terkait adanya Nelayan Asing yang bebas beroperasi di Maluku,  Danlantamal IX Ambon langsung lakukan tindakan dengan memerintahkan KAL Alkura untuk patrol.

Atas perintah Danlantamal IX Ambon Laksamana Pertama TNI Nur Singgih Prihartono S.E., M.Tr (Han), KAL Alkura yang merupakan salah satu unsur patroli Lantamal IX langsung  bertolak dari Dermaga Irian Halong menuju Laut Seram untuk melakukan tugas patrol.

Laporan masyarakat mengatakan, bahwa mereka tidak hanya mengeruk ikan dengan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, tetapi juga melaksanakan bongkar ikan ditengah laut.

Dalam patroli, KAL Alkura tidak hanya bergerak sendiri, tetapi juga diperkuat oleh unsur Pesawat Udara TNI AL dan juga Tim Darat untuk menggali informasi dari masyarakat nelayan Desa Kawa Kecamatan Piru Kabupaten SBB.

Semuanya dikerahkan untuk mengecek kebenaran informasi mengenai maraknya pencurian ikan oleh kapal ikan asing yang dianggap meresahkan nelayan lokal. Secara rutin unsur-unsur Lantamal IX selalu melaksanakan patroli laut dalam rangka pengawasan dan pengamanan wilayah laut yang menjadi tanggung jawabnya dari berbagai kegiatan ilegal lewat laut termasuk juga pada kawasan Laut Seram tersebut.

Dalam patrolinya, KAL Alkura mendapatkan beberapa rumah ikan/ rumpon di Laut Seram,  dan salah satunya milik perusahaan yang berpangkalan di Bitung Sulawesi Utara. Keberadaan rumpon-rumpon sangat meresahkan nelayan karena ikan akan berkumpul di rumpon dan setiap bulannya ada kapal ikan yang beberapa kali datang menangkap ikan di rumpon-rumpon tersebut, hal ini menyebabkan hasil tangkap ikan nelayan lokal menjadi berkurang.

Menanggapi hal tersebut, secara tegas  Komandan Lantamal IX mengancam akan menenggelamkan rumpon-rumpon liar yang keberadaannya merugikan nelayan.

Dari pemeriksaan terhadap salah seorang penjaga rumpon, diketahui bahwa penjaga rumpon yang diketahui bernama Reynaldo Pomto (54) tidak dilengkapi dengan dokumen identitas diri atau KTP, yang bersangkutan mengakui sebagian keluarganya berada di Philipina, sebagian lagi ada di Sangir Sulawesi Utara, dengan kemampuan bahasa Indonesia kurang lancar patut diduga yang bersangkutan adalah WNA.

Untuk menindak lanjuti hal tersebut, Kal Alkura membawa penjaga rumpon ke Mako Lantamal IX untuk dimintai keterangan serta penjelasan dari pihak perusahaan yang mempekerjakannya dan jika ditemukan adanya pelanggaran kewarganegaraan maka permasalahan tersebut akan dilimpahkan kepada Imigrasi. (Tls)

Add a Comment