Green Woman Lakukan “Aksi Duduk” Tuntut Pakde Karwo Peduli Terhadap Korban Kerusakan Lingkungan

Surabaya (wartasas.com) – Pagi hari di depan pintu gerbang kantor gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya ada hal yang menarik dan menyita perhatian warga yang melintas baik itu pejalan kaki maupun pengguna kendaraan.

Ada beberapa wanita mengenakan kaos berwarna hijau dengan menggunakan topi caping ala petani sambil membawa bendera merah putih serta secarik kertas berisikan permohonan tuntutan kepada Gubernur Jawa Timur melakukan Aksi Duduk dikursi pada Kamis pagi, 09 Agustus 2018.

Mereka adalah Perempuan Lakardowo yang terwadahi dalam gerakan bernama Green Woman (Gerakan Perempuan Lakardowo Mandiri) ingin menuntut Hak Lingkungan Sehat dan keberpihakan Gubernur Jawa Timur pada korban kerusakan lingkungan.

Sutama Ketua Green Woman mengatakan akan terus melakukan Aksi Duduk di depan gerbang pintu masuk kantor gubernur Jawa Timur sampai Pakde Karwo sapaan akrab gubernur Jatim datang menemui dan segera memenuhi tuntutan.

Karena, hampir dua tahun penduduk Lakardowo menunggu hasil audit lingkungan PT PRIA, namun tak kunjung rampung. Sementara, PT PRIA terus melakukan perluasan kawasan industri dan melakukan kecerobohan dalam praktek usahanya.

“Penduduk Lakardowo terbelenggu oleh Limbah B3. Sedangkan, Gubernur Jawa Timur seolah pasif dan membiarkan penduduk Lakardowo hidup dalam cengkeraman polusi. Green Woman mengkhawatirkan dampak pembiaran ini akan menimbulkan kerusakan lingkungan yang berkesinambungan,” ucap Sutama.

Tuntutan yang diajukan Green Woman kepada Gubenur Jatim diantaranya adalah

1.Meminta Gubernur Jawa Timur Mendesak Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KLHK untuk mengumumkan hasil audir lingkungan PT PRIA hingga akhir Agustus 2018.

2.Meminta Gubernur Jatim mendesak KLHK utk melakukan clean up, pembersihan timbunan limbah B3 di Desa Lakardowo.

3.Meminta Gubernur Jatim untuk membantu masyarakat Lakardowo dalam upaya mencari asal muasal atau penyebab terjadinya penyakit gatal-gatal atau infeksi Kulit yang menimpah warga desa Lakardowo, selama ini pemkab mojokerto melalui puskesmas hanya melakukan pengobatan masal tanpa melakukan pemeriksaan yang serius hingga menemukan penyebabnya. (dwi)