Max Febriana Bukan Seorang Islam Warisan

Surabaya (wartasas.com) – Adalah Max Febriana ketua dari paguyuban PARTNERS dan SBC saat ini, sebelum resmi memeluk agama Islam tidak pernah terfikirkan dalam kehidupan nya untuk berpindah keyakinan. Namun apa mau dikata hidayah adalah rahasia Illahi yang bisa datang dari berbagai  cara, seperti hal nya yang terjadi pada perjalanan religi Max Febriana seorang seniman dan juga pemain music di tempat ibadah salah satu agama. Sekitar tahun 2000 silam Max Febriana yang saat itu dalam hal ekonomi termasuk dalam class menengah atau berkecukupan melalui job bermain music nya menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

Hingga pada suatu malam Max bermimpi dalam tidurnya, “ Dalam mimpi itu saya meninggal dunia dan di kubur, pada saat berada di dalam kubur saya berusaha keluar dengan cara menggali tanah atau bahasa jawa nya ngerong sampai menemukan sebuah lorong, pada saat saya menyusuri lorong tersebut saya berjumpa dengan sesosok dengan muka bercahaya yang tak dapat saya lihat raut wajah nya  kecuali hanya cahaya sambil membawa gada sejenis senjata pemukul yang besar, pada saat itu saya bertanya pada sesosok tersebut tentang lorong ini menuju kemana? Namun sosok bermuka cahaya tersebut tak menjawab pertanyaan saya, lalu saya melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan sesosok yang lain yang mengenakan jubah putih dan bermuka sama seperti sosok yang pertama, kembali saya menanyakan pertanyaan yang sama dan sosok kedua inilah menjawab “ kalau kamu melihat celah dari atas maka kamu ( Max ) naiklah keatas” kata sosok tersebut, tutur Max saat di temui di salah satu kedai usai acara aksi tanam pohon bersama sebanyak 700 pohon dengan tema “ MENYELAMATKAN BUMI DARI PEMANASAN GLOBAL”  dengan PT. JSM ( jasa Marga Surabaya Mojokerto ) 22 April 2017 yang lalu.

Kemudian Max melanjutkan perjalanan nya menyusuri lorong tersebut hingga sampailah ia melihat celah yang di maksud sosok bersorban dengan muka yang bercahaya itu dan ia pun berusaha naik ke atas melalui celah tersebut, sesampainya di atas Max melihat di sebelah kirinya ada sekumpulan orang berdansa dan di sisi sebelah kanannya melihat sekumpulan orang seperti para kyai sedang beribadah dan dia menghampiri para kyai tersebut, “Saya menghampiri sekumpulan para kyai tersebut dan mereka serta merta memeluk saya, seketika itu saya terbangun dan dengan kebulatan tekat saya mengikrarkan sahadad sebagai syarat masuk Islam. Ternyata di sinilah ujian berat mulai saya rasakan, dulu sebelum menjadi mualaf saya hidup berkecukupan berubah 180 derajat menjadi serba kekurangan, job music pun sepi, tak sampai di situ saja saya lagi – lagi di uji dengan meninggal nya anak dalam kandungan istri beserta istri saya pun meninggal, namun saya tetap teguh dengan pendirian aqidah Islam yang telah saya peluk hingga kini, sekarang saya sudah kembali bahagia dengan kehidupan ekonomi  yang cukup dan sayapun sudah mendapatkan pengganti seorang istri yang cantik sholehah, Alhamdulillah ” pungkas nya. ( AR )