Sandal Anyaman “Zurippa Indonesia” Tembus Hingga ke Mancanegara

Surabaya (wartasas.com) – Barang bekas tak selamanya masuk di tempat pembuangan atau tong sampah dan menjadi sesuatu yang tidak berharga. Namun, ditangan kedua wanita cantik asal kota Surabaya ini, kain sisa pabrik garmen mampu diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual tinggi dan juga mengandung nilai seni serta memiliki keunikan.

Sofia Ekawati dan Sisse Paloma dua sahabat yang merupakan founder dari “Zurippa Indonesia” yaitu brand dari sandal anyaman berbahan dasar kain sisa garmen yang dibuat secara 100 persen handmade tanpa ada sentuhan alat apapun.

Sisse Paloma salah satu Faunder “Zurippa Indonesia” ketika ditemui di gallery perumahan Citraland Surabaya, menceritakan, bahwa, pembuatan sandal anyaman tercetus ketika melihat banyaknya kain sisa dari pengepul pabrik garmen yang terbuang percuma tanpa dimanfaatkan.

“Dari sinilah kita berdua langsung memiliki ide untuk membuat sesuatu dari sampah tekstil ini menjadi suatu barang yang tidak hanya berguna secara fungsi tetapi juga mengandung nilai seni dan unik.” Kata wanita cantik yang biasa disapa Sisse saat ditemui di Gallery nya, Sabtu, (21/10/17).

“Akhirnya terbentuklah sandal anyaman yang kita beri label “Zurippa Indonesia”. Kain sisa itu sendiri selain kaya akan ragam warna dan corak juga beraneka tekstur kainnya sehingga bila dikombinasi kan akan mempunyai nilai seni dan keunikan tersendiri,” tambahnya.

Masih menurut ibu tiga putra ini, bahwa perjalanan dalam pembuatan sandal anyaman “Zurippa Indonesia” tersebut tidak mudah, banyak percobaan yang telah dilakukan berulang ulang hingga hampir satu tahun,  sampai menemukan bentuk, ukuran, kerapian dan corak yang benar benar pas dan enak untuk digunakan.

Diwaktu yang sama, Sofia Ekawati menambahkan, dirinya sempat pergi ke Jepang hanya untuk mempelajari lebih dalam proses pembuatan sandal anyaman tersebut.

“Di Jepang sandal anyaman yang hampir serupa seperti milik kita sudah merupakan suatu kebutuhan untuk digunakan sehari hari dan bukan digunakan untuk hiasan. Sedangkan, di Indonesia masih belum banyak masyarakat memanfaatkan sandal anyaman yang 100 persen handmade,” terang Sofie.

Disinggung terkait pemasaran, Sofia menjelaskan, untuk sementara masih memanfaatkan media sosial (Medsos) untuk marketingnya. Dan, sasaran pasar Produk sandal Zurippe Indonesia memang mengarah ke pangsa pasar orang luar.

“Penjualan dan sasaran pasar Produk sandal zurippe awalnya dijual melalui medsos dan bazzar yang diadakan oleh bazzar sekolah Internasional dimana 80% pembeli adalah warga asing, hasilnya sangat memuaskan,” Ungkapnya tersenyum puas.

Zurippa Indonesia juga pernah mengikuti pameran dengan sasaran market mancanegara yaitu mengikuti pameran Trade Expo Indonesia di Tangerang 11 Oktober 2017 dan International Textile Exhibiton di Jakarta pada tanggal 19 April 2017. Dan, sejak saat itulah zurippe Indonesia mulai menjual produknya ke Prancis, Korea, Jepang dan beberapa negara lainnya.

“Untuk pembuatan kita batasi dengan satu model ataupun corak hanya 5 pasang, sehingga produk kita tidak dapat di tiru atau dipalsukan. Kalau tertarik dengan sandal 100 persen buatan tangan, silakan datang ke gallery, kami siap menyambut kedatangan anda,” papar Sisse dengan ramah.

Sofia Ekawati dan Sisse Paloma berharap kedepannya nanti, “Zurippa Indonesia” tidak saja dikenal masyarakat luas dan menghasilkan pundi pundi rupiah namun juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi ibu ibu setempat maupun para lansia dan remaja agar dapat menjadi mitra kerja untuk mempersempit pengangguran dan berkarya. (Tls)