Hingga Akhir Tahun 2017, Jasa Keuangan Indonesia Terus Stabil

Jakarta (wartasas.com) – Sektor jasa keuangan Indonesia hingga akhir 2017 terus menunjukkan kondisi yang stabil dengan kinerja intermediasi yang berada pada level positif. Hal ini disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam kesempatan jumpa pers akhir tahun di Kantor OJK, Jakarta.

Dalam paparannya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan, bahwa, stabilitas sektor jasa keuangan selama 2017 didukung oleh permodalan yang tinggi dan likuiditas yang memadai untuk mengantisipasi risiko dan mendukung ekspansi usaha.

“Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan juga berada pada level positif, terutama didukung oleh penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp 257,02 triliun, melebihi target tahun 2017 sebesar Rp 217,02 triliun,” kata Wimboh dalam jumpa pers, Kamis, (21/12/17).

“Sementara itu, intermediasi perbankan sudah mulai tumbuh ditunjukkan angka kredit perbankan sampai dengan akhir November 2017 telah meningkat sebesar Rp228 triliun, sehingga total kredit perbankan mencapai Rp4.605 triliun atau tumbuh sebesar 7,47% yoy,” tambahnya.

OJK memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan hingga akhir 2017 berada di kisaran 7-9%. Deviasi pertumbuhan kredit perbankan dibandingkan dengan target Rencana Bisnis Bank 2017 sebesar 11,86% yoy disebabkan oleh konsolidasi yang dilakukan oleh perbankan nasional sehubungan dengan risiko kredit termasuk melalui hapus buku terhadap kredit  bermasalah terutama  untuk segmen kredit berbasis komoditas beserta turunannya.

Data OJK menunjukkan, sampai Nopember CAR perbankan sebesar 23,54% (batas minimum 8%) dengan tier 1 Capital 21,74%. Risk based capital (RBC minimum 120%) asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing tercatat sebesar 310% dan 492%.

“Likuiditas pasar juga terlihat memadai dengan Excess reserve perbankan per 13 Desember 2017 sebesar Rp 644,95 triliun, rasio alat likuid per non-core deposit dan rasio alat likuid per DPK masing-masing sebesar 101,75% dan 21,44%. Sementara net inflow di pasar modal domestik untuk posisi sampai dengan 19 Desember 2017 sebesar Rp 129,3 triliun, terutama berasal dari pasar SBN,” terangnya.

Sementara, tingkat kredit/pembiayaan bermasalah secara umum juga masih berada dalam level yang terjaga, yakni sebesar 2,89% untuk perbankan dan 3,08% untuk perusahaan pembiayaan. Sedangkan tingkat suku bunga perbankan, baik bunga deposito maupun tingkat bunga pinjaman menunjukkan tren menurun.

“Data sampai dengan November 2017 menunjukkan fakta bahwa suku bunga deposito 1 bulan rata-rata 5,72%, turun 64 bps dibanding tahun lalu dan suku bunga kredit rata-rata 11,45%, turun 72 bps dibanding tahun lalu,” imbuhnya.

Sejak OJK berdiri, sudah banyak program-program strategis yang telah dilakukan dalam upaya mendukung stabilitas sektor jasa keuangan, memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional maupun dalam melindungi kepentingan konsumen.

“Program tersebut seperti, Pembiayaan infrastruktur melalui pasar modal, Memfasilitasi upaya penurunan tingkat ketimpangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat luas, Mendukung peningkatan literasi keuangan masyarakat di daerah dan memberikan Perlindungan Konsumen dengan membentuk Satgas Waspada Investasi,” urainya.

Selain itu, OJK terus berupaya untuk mendorong penguatan infrastruktur pengawasan dan perizinan agar lebih efektif dan efisien. Beberapa penguatan yang telah dilakukan di antaranya melalui peluncuran Sistem Informasi Perizinan Terintegrasi untuk percepatan proses perizinan multi sektoral. Proses perizinan yang OJK luncurkan di tahun 2017 adalah untuk penerbitan sukuk obligasi yang perizinannya dapat dipercepat dari rata-rata 105 hari kerja menjadi hanya 22 hari kerja. (Ang/Tls)