Dukung Visi Pemerintah, Aprindo Siapkan Kantong Belanja Pakai Ulang

Surabaya (wartasas.com) – Sebagai asosiasi resmi yang menaungi usaha ritel di Indonesia, Asosiasi Pengusaha Ritel (Aprindo) mendukung salah satu visi pemerintah untuk bisa mengurangi 30% sampah dan menangani sampah sebesar 70% termasuk sampah plastik.

Bentuk nyata dari dukungan tersebut adalah semua toko ritel di bawah Aprindo sudah menyediakan kantong belanja plastik berkriteria ekolabel yang berbahan oxo degradable atau bio degradable yang mudah terurai.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Abraham Ibnu selaku Kordinator Aprindo Wilayah Timur, saat dijumpai di Surabaya pada Senin, 03 Desember 2018.

Abraham Ibnu mengatakan bahwa, seperti yang sudah disampaikan oleh Ketua Umum Aprindo Roy Mandey di Jakarta waktu lalu, ritel modern yang dinaungi oleh Aprindo juga menyediakan berbagai kantong belanja pakai ulang sebagai alternatif dan secara konsisten mengedukasi pelanggan untuk mengurangi pengunaan kantong belanja plastik melalui program-program peduli lingkungannya.

“Kita dukung usaha pemerintah yang bertujuan mengurangi sampah plastik, untuk itu saya pastikan bahwa semua toko-toko ritel anggota Aprindo sudah menggunakan kantong belanja plastik yang mudah terurai sesuai standar yang diberikan oleh Pemerintah untuk mengurangi dampak negatif bagi lingkungan,” kata Ibnu saat ditemui di Surabaya, Senin, (03/12/18).

“Kantong belanja plastik peritel anggota Aprindo sudah mengikuti standar SNI kriteria ekolabel untuk kantong belanja plastik dan bioplastik yang mudah terurai yang dikeluarkan oleh BSN atas rekomendasi Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” sambungnya.

Masih menurut penuturan Ibnu, telah ada sejumlah kota yang kini memiliki perda atau perwali yang melarang penyediaan kantong belanja plastik di ritel modern meskipun kantong belanja plastik yang diberikan oleh toko ritel modern tersebut telah memiliki kriteria ekolabel berbahan oxo degradable atau bio degradable yang mudah terurai.

“Sayangnya definisi kantong plastik ramah lingkungan yang ditetapkan dalam perda atau perwali pelarangan kantong plastik tersebut tidak memiliki standar nasional yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga semua kantong belanja plastik yang disediakan di toko ritel modern dianggap tidak ramah lingkungan. Ini menyebabkan terjadinya multi tafsir dan membingungkan masyarakat,” terang Ibnu.

Selain itu, Aprindo juga menyayangkan pelarangan penyediaan kantong plastik hanya ditargetkan pada ritel modern. Persentase ritel modern hanya 35% dari total ritel di Indonesia, sehingga volume pengunaan kantong belanja plastik dipastikan lebih tinggi di pasar tradisional.

Dijelaskan juga, hampir 80% perilaku ke departement store tidak punya rencana belanja, sehingga mayoritas pelanggan tidak membawa tas untuk menyimpan belanjaan. Keputusan konsumen untuk membeli dimulai dari jalan-jalan.

“Untuk itu, Aprindo berharap pemerintah hendaknya mencari jalan terbaik pengurangan timbulan sampah plastik dan pengelolaannya, serta tidak serta merta menerapkan pelarangan yang akan menyulitkan masyarakat. Sosialisasi dan edukasi perilaku yang ramah lingkungan harus diutamakan, baik kepada masyarakat sebagai konsumen dan sektor-sektor usaha sebelum peraturan-peraturan dijalankan,” harapnya.

Dalam permasalahan sampah plastik ini, diperlukan pemahaman masalah yang lebih luas untuk mendapatkan solusi terbaiknya bagi setiap pihak karena konsumen yang adalah masyarakat Indonesia berhak mendapatkan pelayanan yang terbaik. (Tls)