BI Terus Mendorong Perbaikan Permintaan Domestik

Surabaya (wartasas.com) – Dalam rangka mengoptimalkan potensi dan memperkuat perekonomian Jawa Timur, Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur kembali menyelenggarakan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI)  2016.

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI)  2016, yang digelar Selasa, 6 Desember 2016, di Shangri-La Hotel Surabaya, dihadiri Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo, S.H, M dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Jawa Timur, Benny Siswanto.

Turut hadir, Kepala Kantor Regional 4 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kanwil Bea Cukai, Kanwil Perbendaharaan Negara, Kanwil Pajak, Kepala Konsulat Asing dan Para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Jawa Timur, Benny Siswanto dalam kesempatan acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, mengatakan, bahwa perekonomian global selama tahun 2016 belum menunjukan momentum perbaikan sebagaimana perkiraan semula.

“Di tengah dinamika ekonomi global tersebut, perekonomian nasional masih mampu tumbuh mengesankan dibandingkan dengan pencapaian negara berkembang lainnya, ini tidak terlepas dari konsistensi dan sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi.” Kata Benny dalam pidato singkatnya, Selasa, (6/12/16).

Pelemahan perekonomian global masih terus berlangsung, diikuti dengan harga komoditas yang masih rendah, serta volume perdagangan dan investasi globalyang menurun.

“Fenomena ini semakin diperparah oleh isu proteksionisme perdagangan dunia serta pelemahan Global Value Chain, sehingga ekonomi global diprakirakan tumbuh sekitar 3,0% di tahun 2016, lebih rendah daripada tahun 2015 (3,2%),” tambahnya.

Pada tahun 2016, Provinsi Jawa Timur menunjukan pertumbuhan ekonomi impresif dengan inflasi yang terjaga rendah. Bank Indonesia Jawa Timur juga secara konsisten mendukung perkembangan  UMKM melalui pengembangan klaster komoditas dan juga industri kreatif.

“Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional, perekonomian Jawa Timur diyakini juga mampu mencatat perbaikan 5,7-6,1% pertumbuhan di tengah berbagai tantangan yang ada,” ucap Benny.

Bank Indonesia dalam kiprahnya juga turut mendorong perbaikan permintaan domestik. Dalam setahun terakhir, Bank Indonesia telah melakukan pelonggaran kebijakan moneter berupa penurunan suku bunga kebijakan dan Giro Wajib Minimum (GWM) masing-masing hingga 150 bps, disertai dengan pemberlakuan BI 7-days Reverse Repo Rate menggantikan BI-Rate untuk memperkuat efektifitas kebijakan moneter dan mendorong pendalaman pasar keuangan.

“Kebijakan moneter tersebut juga disinergikan dengan kebijakan makroprudensial berupa relaksasi Loan to Value (LTV) serta peningkatan batas bawah GWM Loan to Funding Ratio (LFR),” urai Benny mengakhiri. (Tls)

Add a Comment